MAKASSAR, Radar007.com — Angkatan Muda Bumi Anoa (AMBA) Sulawesi Tenggara kembali menunjukkan taringnya dalam diplomasi kebudayaan. Bukan sekadar menggelar festival, organisasi yang bermarkas di Kendari ini terus mendorong budaya dan pariwisata Sulawesi agar tidak berhenti menjadi kebanggaan daerah, tetapi mampu menembus panggung nasional hingga internasional.
Melalui Bumi Anoa Nusantara Festival, AMBA SULTRA membangun ruang kolaborasi lintas daerah dan lintas negara untuk memperkenalkan kekayaan seni, tradisi, sejarah, serta potensi pariwisata kawasan timur Indonesia.
Langkah tersebut bukan gerakan sesaat. Rekam jejak diplomasi kebudayaan AMBA SULTRA telah terhubung melalui International Nusantara Cultural Forum (INCaF), sebuah forum lembaga kebudayaan Nusantara di kawasan ASEAN yang melibatkan Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Setelah membangun sinergi kebudayaan di Kuala Lumpur dan Selangor Darul Ehsan pada November 2025, AMBA SULTRA kini membawa semangat yang sama ke Sulawesi Selatan.
Gandeng Kerajaan Gowa, Budaya Timur Indonesia Naik Kelas
Yang membuat gelaran kali ini semakin strategis adalah keterlibatan Lembaga Adat Kerajaan Gowa (LAKG), lembaga yang bergerak dalam pelestarian sejarah, adat, dan tradisi Kerajaan Gowa.
Kolaborasi tersebut mendapat sambutan positif dari Putra Mahkota Kerajaan Gowa, PYM Andi Muhammad Imam Daeng Situju bin Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaengta Lembang Parang Sultan Malikussaid II Batara Gowa III.
Dukungan itu disampaikan kepada Ketua Umum AMBA SULTRA Indonesia, YM Stenly Diover.
Bagi AMBA SULTRA, keterlibatan unsur adat Kerajaan Gowa bukan sekadar seremoni. Kolaborasi tersebut menjadi simbol bahwa kekuatan budaya Nusantara harus dibangun melalui kebersamaan, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Mangkasara’ Molulo 2026: Bukan Sekadar Festival
Kolaborasi budaya bertajuk “Mangkasara’ Molulo 2026” ini juga mendapat dukungan berbagai organisasi kebudayaan di Makassar dan sekitarnya, di antaranya Divisi Seni Budaya Mabes Kiwal Garuda Hitam MPW Sulawesi Selatan, Sulawesi Bersatu Sipakatauki, serta Lembaga Pakarena Pusaka Leluhur Nusantara.
AMBA SULTRA sengaja memilih Makassar bukan tanpa alasan.
Sebagai salah satu metropolitan utama dan pintu gerbang kawasan timur Indonesia, Makassar memiliki posisi strategis sebagai etalase untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi kepada masyarakat nasional maupun dunia.
Karena itu, festival ini diarahkan bukan hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang diplomasi, promosi pariwisata, sekaligus konsolidasi kekuatan budaya Nusantara.
Delegasi ASEAN Akan Hadir
Bumi Anoa Nusantara Festival dijadwalkan berlangsung pada 29 Agustus 2026 di Anjungan Pantai Losari, Makassar.
Festival tersebut akan menyuguhkan perpaduan seni dan tradisi Bugis, Makassar, serta Sulawesi Tenggara. Yang tak kalah penting, sejumlah delegasi lembaga kebudayaan anggota INCaF dari negara-negara ASEAN dijadwalkan hadir.
Kehadiran delegasi internasional tersebut membuka peluang lebih besar bagi budaya Sulawesi untuk dikenal di luar negeri.
Di tengah derasnya arus globalisasi, AMBA SULTRA seolah ingin mengirim pesan tegas: budaya lokal tidak boleh hanya menjadi tontonan di daerah sendiri. Budaya harus menjadi kekuatan diplomasi dan identitas bangsa di panggung dunia.
Keberlanjutan Bumi Anoa Nusantara Festival diharapkan mampu memperkuat jejaring kebudayaan antarwilayah dan antarnegara, sekaligus membuka ruang promosi pariwisata Sulawesi secara lebih agresif.
Jika konsistensi ini terus dijaga, maka panggung budaya bukan lagi sekadar tempat mempertontonkan tarian dan tradisi, melainkan dapat menjadi jembatan diplomasi, penggerak ekonomi kreatif, dan pintu masuk pariwisata Sulawesi menuju panggung global.
(((Robby.RCAZ)))








