Jakarta, RADAR 007— Pengukuhan Pengurus Himpunan Keluarga Maluku Utara (HIKMU) Periode 2026–2031 di Auditorium Gedung BRIN, Jakarta Pusat, Sabtu (22/8/2026), menjadi momentum penting konsolidasi masyarakat Maluku Utara di perantauan.
Mengusung tema “HIKMU Bangkit Menuju Perubahan” dengan semangat “Marimoi Ngone Futuru”, kegiatan yang berlangsung mulai sekitar pukul 09.30 WIB tersebut tidak hanya diisi dengan prosesi pengukuhan kepengurusan baru, tetapi juga dirangkaikan dengan Pagelaran Seni dan Budaya Maluku Utara.
Berdasarkan informasi penyelenggara, kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Fadli Zon, S.S., M.Sc., serta sejumlah unsur masyarakat Maluku Utara, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, pengusaha, pemuda hingga mahasiswa.
Pengukuhan tersebut sekaligus menandai dimulainya masa kepemimpinan baru HIKMU di bawah H. Askan Naim, S.Sos., M.H., untuk periode 2026–2031.
Momentum tersebut kemudian dipandang bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan, melainkan sebagai kesempatan untuk meneguhkan kembali jati diri HIKMU sebagai rumah besar persaudaraan masyarakat Maluku Utara sekaligus memperluas perannya menjadi rumah pengabdian bagi masyarakat dan daerah asal.
Pandangan tersebut disampaikan Ust. Dano Jamaludin Saifudin, pemerhati Tasawuf Irfani Kebangsaan dari Komunitas Lentera Nurullah, dalam renungan kebangsaan bertajuk “HIKMU Bangkit Menuju Perubahan: Dari Rumah Persaudaraan Menjadi Rumah Pengabdian.”
Menurut Ust. Dano, pergantian kepengurusan tidak boleh dimaknai semata-mata sebagai perpindahan jabatan atau perubahan struktur organisasi.
“Yang berpindah bukan sekadar struktur kepengurusan, tetapi ada amanah yang diteruskan, sejarah yang dilanjutkan dan persaudaraan yang harus dijaga,” ujar Ust. Dano.
HIKMU Bukan Sekadar Organisasi Perantauan
Ust. Dano menilai, keberadaan HIKMU memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar organisasi sosial masyarakat Maluku Utara di perantauan.
HIKMU dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai latar belakang masyarakat Maluku Utara—baik Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo maupun berbagai komunitas lainnya dalam satu kesadaran persaudaraan.
Semangat “torang samua basudara” dan “Marimoi Ngone Futuru” dinilai menjadi modal sosial penting untuk membangun organisasi yang inklusif dan berorientasi pada kemaslahatan.
“Marimoi Ngone Futuru bukan sekadar slogan. Ia adalah etika bahwa kemajuan hanya bermakna apabila dijalani bersama, tanpa meninggalkan siapa pun,” katanya.
Menurutnya, HIKMU akan menjadi besar bukan karena orang-orang di dalamnya berlomba terlihat paling besar, tetapi ketika semakin banyak masyarakat Maluku Utara merasa memiliki rumah di dalamnya.

Dari Rumah Persaudaraan Menjadi Rumah Pengabdian
Ust. Dano mendorong agar tema “HIKMU Bangkit Menuju Perubahan” diterjemahkan menjadi perubahan yang nyata. Perubahan tersebut bukan hanya menyangkut struktur organisasi, melainkan juga perubahan kualitas pengabdian.
HIKMU, katanya, harus mampu menjadi rumah bagi anak muda untuk menemukan mentor, mahasiswa untuk memperoleh pendampingan, pengusaha untuk membangun jejaring, masyarakat untuk mendapatkan ruang pemberdayaan, serta kebudayaan Maluku Utara untuk terus hidup dan diwariskan.
“Tidak perlu menjadi organisasi yang paling gaduh. Cukuplah menjadi organisasi yang paling terasa manfaatnya,” ujarnya.
Menurutnya, organisasi akan dikenang bukan karena seberapa tinggi panggung yang pernah didudukinya, tetapi karena seberapa besar manfaat yang pernah diberikan kepada masyarakat.
Pagelaran Seni Budaya Perkuat Identitas Maluku Utara
Selain prosesi pengukuhan, Pagelaran Seni dan Budaya Maluku Utara menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut.
Beragam seni pertunjukan, tradisi, musik, tarian dan kearifan lokal Maluku Utara ditampilkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus memperkuat identitas budaya daerah di tengah masyarakat perantauan.
Kehadiran seni dan budaya dalam agenda HIKMU memperlihatkan bahwa organisasi masyarakat perantauan tidak hanya memiliki fungsi sosial dan silaturahmi, tetapi juga dapat menjadi ruang strategis untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal generasi muda.
Dalam konteks tersebut, kehadiran Menteri Kebudayaan RI menjadi semakin relevan karena kebudayaan memiliki posisi penting dalam memperkuat identitas sekaligus persatuan bangsa.
Berdasarkan informasi penyelenggara, Menteri Kebudayaan memberikan apresiasi terhadap peran organisasi masyarakat dalam menjaga identitas budaya daerah.
“HIKMU bukan sekadar organisasi perantauan — ini rumah persaudaraan, penjaga identitas, dan kekuatan untuk membawa Maluku Utara semakin maju,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Pesan tersebut menempatkan kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi sebagai kekuatan sosial yang dapat mempererat hubungan antargenerasi sekaligus memperkuat kontribusi masyarakat Maluku Utara bagi Indonesia.
Ust. Dano memandang pelestarian budaya sebagai bagian penting dari amanah generasi. Menurutnya, generasi muda Maluku Utara tidak cukup hanya diberi posisi dalam organisasi, tetapi harus diberikan ruang untuk mengenal, memahami, mengembangkan dan meneruskan warisan leluhur.
“Yang tua memberikan akar, yang muda menumbuhkan daun. Pohon yang kehilangan akar akan tumbang, tetapi pohon yang tidak menumbuhkan daun akan kehilangan masa depan,” katanya.
Karena itu, HIKMU diharapkan dapat menjadi jembatan antara pengalaman generasi senior dengan kreativitas generasi muda.
Budaya tidak hanya dipertontonkan dalam sebuah pagelaran, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan, pendidikan, ekonomi kreatif, seni, literasi dan pembentukan karakter generasi penerus.
*Amanah Kepemimpinan Bukan Kekuasaan*
Dalam perspektif Tasawuf Irfani, Ust. Dano mengingatkan bahwa jabatan organisasi bukanlah simbol kekuasaan, melainkan amanah.
Ia mengutip QS. An-Nisa ayat 58 tentang perintah Allah SWT untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak dan menegakkan keadilan.
“Amanah bukan mahkota. Amanah adalah pertanggungjawaban,” tegasnya.
Karena itu, kepengurusan HIKMU periode 2026–2031 diharapkan mampu mengedepankan kerendahan hati, keterbukaan, musyawarah, tabayyun dan semangat pelayanan.
*Perbedaan Jangan Menghilangkan Persaudaraan*
Ust. Dano juga mengingatkan bahwa organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak memiliki perbedaan.
Sebaliknya, organisasi yang matang adalah organisasi yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.
“Musyawarah boleh panas, tetapi persaudaraan jangan terbakar,” ujarnya.
Menurutnya, kritik tidak boleh langsung dianggap sebagai permusuhan, sementara perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk menyingkirkan seseorang.
Tabayyun harus menjadi budaya, adab menjadi pagar, musyawarah menjadi jalan dan persaudaraan menjadi tujuan.
*Dari Jakarta untuk Maluku Utara*
Keberadaan HIKMU di Jakarta juga dinilai memiliki posisi strategis karena Jakarta merupakan salah satu pusat pemerintahan, kebijakan, pendidikan, dunia usaha, media, riset dan jejaring nasional.
Karena itu, masyarakat Maluku Utara di perantauan diharapkan mampu menjadi jembatan yang sehat antara pusat dan daerah.
“Pertanyaannya bukan hanya apa yang bisa diberikan Jakarta kepada Maluku Utara, tetapi bagaimana Maluku Utara dapat menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek pembangunan,” kata Ust. Dano.
Menurutnya, kekayaan sumber daya alam Maluku Utara harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, perlindungan lingkungan, pemerataan manfaat ekonomi dan penghormatan terhadap masyarakat serta kebudayaan lokal.
Kepengurusan HIKMU periode 2026–2031 diharapkan mampu memperluas kontribusi sosial sekaligus membangun jaringan antardaerah.
Berbagai agenda dapat dikembangkan, antara lain beasiswa bagi anak-anak Maluku Utara, pendampingan mahasiswa, penguatan UMKM, jaringan profesional, pusat data dan kajian Maluku Utara, advokasi kebijakan berbasis riset, pelestarian bahasa dan budaya, penguatan masyarakat adat, jejaring ekonomi diaspora serta kerja sama pembangunan antara perantauan dan daerah asal.
Dengan demikian, HIKMU tidak hanya menjawab pertanyaan “siapa kita?”, tetapi juga pertanyaan yang lebih penting: “apa yang dapat kita lakukan untuk sesama?”
Pelantikan Bukan Akhir, Melainkan Awal Pengabdian
Ust. Dano menegaskan bahwa seremoni pengukuhan pada akhirnya akan selesai. Panggung akan dibongkar, spanduk diturunkan, kamera berhenti merekam dan para tamu kembali ke tempat masing-masing.
Namun, justru setelah semua itu selesai, amanah baru benar-benar dimulai.
“Ukuran keberhasilan pengurus bukan ketika berdiri di atas panggung, tetapi ketika kembali kepada masyarakat dan menghadirkan manfaat,” ujarnya.
Karena itu, HIKMU diharapkan tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga kuat secara manfaat.
Kepemimpinan baru di bawah H. Askan Naim diharapkan mampu membawa HIKMU menjadi organisasi yang semakin inklusif, profesional, berbudaya, berintegritas dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat Maluku Utara di tengah perubahan zaman.
Menjaga Rumah Besar Maluku Utara
Pada akhirnya, HIKMU bukan sekadar sebuah nama atau singkatan.
Di dalamnya terdapat sejarah panjang masyarakat Maluku Utara di perantauan, kerinduan terhadap tanah leluhur, kebudayaan, bahasa, adat istiadat serta cita-cita untuk terus memberikan kontribusi bagi daerah dan bangsa.
Karena itu, Ust. Dano berpesan agar HIKMU tidak kehilangan akar ketika memasuki babak baru.
“HIKMU boleh tumbuh, boleh berubah dan menjadi semakin profesional. Tetapi jangan pernah kehilangan akar. Akar HIKMU adalah persaudaraan, kebudayaan, pengabdian, keadilan, ilmu dan ketakwaan kepada Allah SWT,” katanya.
Ia berharap tema “HIKMU Bangkit Menuju Perubahan” tidak berhenti sebagai tema pelantikan, melainkan menjadi gerakan nyata.
“Semoga kepengurusan baru tidak sekadar menjadi pengurus sebuah organisasi, tetapi menjadi pelayan sebuah amanah sejarah. Semoga perubahan yang dicanangkan bukan hanya perubahan struktur, tetapi perubahan kualitas pengabdian,” ujarnya.
Semangat tersebut kemudian bermuara pada satu pesan bersama: mengajak seluruh keluarga besar Maluku Utara di mana pun berada untuk menjaga persaudaraan, merawat budaya dan bersama-sama membangun daerah asal.
“Kita satu darah, satu budaya, satu tujuan: membangun daerah asal dan memajukan persaudaraan kita.”
Dengan semangat “HIKMU Bangkit Menuju Perubahan” dan “Marimoi Ngone Futuru”, pengukuhan Pengurus HIKMU Periode 2026–2031 diharapkan menjadi awal dari babak baru perjalanan masyarakat Maluku Utara di perantauan—dari rumah persaudaraan menuju rumah pengabdian, dari menjaga identitas menuju memperkuat kontribusi, serta dari berkumpul bersama menuju bergerak dan maju bersama.
Marimoi Ngone Futuru.
Bersama Kita Maju, Bersama Menjaga Maluku Utara, Bersama Berkontribusi untuk Indonesia.
Catatan Redaksi: Renungan Ust. Dano Jamaludin Saifudin dalam rilis ini merupakan pandangan kebangsaan dan spiritual pribadi dalam konteks momentum pengukuhan HIKMU Periode 2026–2031, bukan pernyataan resmi organisasi HIKMU dan tidak dimaksudkan sebagai penilaian terhadap pribadi atau kelompok tertentu.(RED)










