
*PURWOREJO* – Sebuah tamparan moral dilontarkan Ketua Suara Independent Jurnalis Indonesia Kabupaten Purworejo, Gus Takim. Di tengah hiruk pikuk politik nasional, ia mengingatkan satu hal sederhana tapi fundamental: kesejahteraan rakyat hanya bisa terwujud jika penguasa amanah dan kekayaan negeri dikelola untuk bangsanya sendiri.
“Seandainya Indonesia ini petingginya/pejabatnya tidak korupsi dan amanah, serta para penegak hukum betul-betul melaksanakan amanah menjunjung tinggi keadilan. Dan kekayaan alamnya tidak dijual keluar, dikelola sendiri. Saya yakin masyarakatnya sejahtera,” tegas Gus Takim, Minggu 28/6/2026.
Pernyataan itu disampaikan Gus Takim sebagai refleksi atas kondisi bangsa saat ini, saat publik ramai menyorot efisiensi anggaran, program MBG, revisi UU, dan tekanan ekonomi.
*1. Tiga Kunci Kesejahteraan Menurut SIJI Purworejo*
Gus Takim merinci 3 prasyarat yang menurutnya non-negosiasi jika Indonesia ingin maju:
*Pertama, Pejabat Bersih & Amanah.*
“Masalah kita bukan kurang regulasi, tapi kurang keteladanan. Kalau pejabat tak korupsi, anggaran Rp171 T untuk MBG misalnya, bisa tepat sasaran sampai ke anak di desa paling ujung Purworejo tanpa bocor,” ujarnya.
Ia menyinggung aksi mahasiswa Juni 2026 yang menuntut hentikan pemborosan APBN. “Itu teriakannya rakyat. Artinya kepercayaan publik ke pengelola uang negara sedang diuji.”
*Kedua, Penegak Hukum Menjunjung Keadilan, Bukan Kekuasaan.*
“Keadilan tidak boleh dikalahkan oleh solidaritas korps. Anggota TNI, Polri, atau aparat lain yang salah harus diadili terbuka dan independen,” kata Gus Takim, merujuk tuntutan reformasi hukum yang kini mengemuka.
Baginya, hukum yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas adalah sumber utama ketidakadilan yang dirasakan rakyat sampai ke daerah.
*Ketiga, Kekayaan Alam Dikelola Sendiri untuk Rakyat.*
“Kita ini negara kaya. Tapi kalau semua dijual keluar, yang untung investor, yang nanggung dampaknya petani dan nelayan kita. Seharusnya 2026 jadi momentum pangan berbasis wilayah, bukan impor terus,” tegasnya.
Pernyataan ini nyambung dengan dorongan DPR agar pemerintah memperkuat produksi pangan berbasis wilayah dan keadilan ekologis.
*2. Pesan untuk 3 Pihak: Penguasa, Aparat, Rakyat*
Gus Takim menyebut pernyataannya bukan sindiran, tapi ajakan sadar bersama.
*Untuk penguasa:* “Jabatan itu titipan. Gunakan untuk melayani, bukan menguasai. Rakyat sudah lelah jadi penonton penderitaan.”
*Untuk aparat penegak hukum:* “Jadilah benteng keadilan terakhir. Kalau hukum dipermainkan, negara ini runtuh dari dalam.”
*Untuk rakyat:* “Kita juga harus sadar berbangsa dan bernegara. Jangan jual suara, jangan diam saat salah. Kritis itu bagian dari cinta tanah air.”
*3. Konteks Purworejo: Dari Rhetorika ke Aksi*
Sebagai organisasi jurnalis independen, SIJI Purworejo berkomitmen jadi penyangga demokrasi. “Tugas kami mengawal. Kalau ada program pemerintah pusat yang turun ke Purworejo, kami cek: benar-benar dirasakan rakyat atau hanya di atas kertas,” pungkas Gus Takim.
Ia berharap tulisan ini jadi pengingat. “Kalau 3 hal itu jalan: pejabat amanah, hukum adil, SDA untuk rakyat. Percaya saya, Purworejo, Jateng, sampai Sabang-Merauke akan sejahtera.”
Tim Redaksi
www.radar007.com










