Batu Bara, Radar007.com – Di tengah riuh perbincangan tentang sejarah dan identitas pesisir timur Sumatera, ada satu fragmen peradaban yang perlahan tenggelam dari ingatan publik. Namanya Jermal. Sebuah rumah panggung yang berdiri kokoh di tengah Selat Malaka, menjadi saksi bisu kehidupan masyarakat nelayan pesisir selama puluhan tahun sebelum akhirnya punah ditelan arus modernisasi.
Bagi generasi yang tumbuh pada era 1970 hingga 1980-an, Jermal bukan sekadar bangunan kayu di tengah laut. Ia adalah simbol perjuangan hidup, pusat ekonomi keluarga nelayan, sekaligus ruang sosial yang membentuk karakter masyarakat pesisir dari Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, hingga Bagan Asahan, Kota Tanjung Balai.
Direktur LKPI, Irwansyah Nasution, dalam tulisannya berjudul “Tidur di Laut, Siang Jadi Duit: Kisah Rumah Jermal yang Hilang”, mengungkap bahwa Jermal pernah menjadi bagian penting dari lanskap peradaban Pantai Timur Sumatera. Namun kini, keberadaannya hanya tinggal cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut.
Peradaban Kecil di Tengah Laut
Jermal memiliki sistem kehidupan yang unik. Di sana, waktu tidak diukur dengan jam dinding, melainkan oleh pasang surut air laut dan arah angin. Ketika angin timur berembus kencang, bangunan Jermal bergoyang hebat diterpa ombak. Pada malam bulan mati, gelap gulita menyelimuti lautan dan hanya cahaya lampu petromaks yang menjadi penunjuk kehidupan.
Masyarakat Jermal hidup dalam keterasingan yang nyaris sempurna. Anak-anak tumbuh dan belajar dari orang tua mereka. Pengetahuan tentang laut, arah angin, serta cara membaca musim menjadi kurikulum kehidupan yang diwariskan turun-temurun.
Bahkan dalam urusan kematian, laut menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Ketika cuaca buruk menghalangi perjalanan ke daratan, jenazah kerap harus disemayamkan sementara atau dikembalikan ke laut dengan tata cara tertentu sesuai kondisi yang memungkinkan saat itu.
Tragedi dan Misteri
Di balik produktivitasnya sebagai pusat penangkapan ikan, Jermal menyimpan banyak kisah pilu. Tidak sedikit bangunan yang hilang diterjang badai atau rusak akibat cuaca ekstrem. Bagi masyarakat pesisir, Jermal bukan sekadar alat tangkap, melainkan simbol keberanian manusia menghadapi ganasnya laut.
Malam hari menjadi ujian tersendiri. Laut Malaka yang tenang di siang hari dapat berubah menjadi ancaman mematikan ketika cuaca memburuk. Banyak cerita rakyat yang lahir dari kehidupan Jermal, mulai dari kisah kehilangan nelayan hingga bangunan yang lenyap tanpa jejak.
Kalah oleh Modernisasi
Ironisnya, Jermal tidak runtuh karena badai. Ia justru tumbang oleh perubahan zaman. Masuknya kapal-kapal penangkap ikan modern dengan teknologi lebih maju membuat produktivitas Jermal semakin terdesak. Sekali operasi, kapal besar mampu memperoleh hasil tangkapan yang jauh melampaui kemampuan Jermal dalam waktu singkat.
Di sisi lain, berbagai regulasi perikanan dan lingkungan hidup mulai membatasi keberadaan alat tangkap tradisional yang dianggap tidak lagi sesuai dengan tata kelola sumber daya laut modern.
Dasar hukumnya antara lain terdapat dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009, yang menegaskan pentingnya pengelolaan sumber daya ikan secara berkelanjutan. Selain itu, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengamanatkan bahwa setiap aktivitas pemanfaatan sumber daya alam harus memperhatikan kelestarian ekosistem.
Perubahan regulasi tersebut, ditambah kompetisi dengan armada perikanan modern, secara perlahan mengakhiri eksistensi Jermal di perairan Pantai Timur Sumatera.
Menjaga Ingatan Sejarah
Kini, jika menyusuri pesisir Tanjung Tiram hingga Asahan, hampir tidak ada lagi jejak fisik Jermal yang dapat ditemukan. Tiang-tiang kayu yang dahulu berdiri kokoh di tengah laut telah lenyap. Namun nilai historisnya tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat pesisir.
Jermal bukan sekadar bangunan pencari ikan. Ia adalah representasi ketahanan hidup, kearifan lokal, dan identitas maritim masyarakat Pantai Timur Sumatera. Hilangnya Jermal menjadi pengingat bahwa modernisasi memang membawa kemajuan, tetapi juga dapat menghapus jejak-jejak peradaban kecil yang pernah menjadi denyut kehidupan sebuah komunitas.
Karena itu, mendokumentasikan kisah Jermal bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan merawat sejarah agar generasi mendatang memahami bahwa di tengah luasnya Selat Malaka, pernah berdiri sebuah peradaban yang hidup, bekerja, bermimpi, dan bertaruh nyawa di atas papan-papan kayu yang disebut Jermal.
Reporter: Erwanto
Sumber: Direktur Lembaga Kajian Pembangunan Indonesia (LKPI)










