JAKARTA, RADAR 007— Di tengah deretan gedung pencakar langit yang menjulang di kawasan Sudirman hingga Thamrin, ada sebuah gagasan yang lahir dari akar budaya Betawi. Gagasan itu bukan sekadar tentang melestarikan tradisi, melainkan mengubah cara masyarakat adat memandang masa depan ekonomi mereka.
Bagi David Darmawan, tokoh Betawi yang dikenal aktif mengangkat isu tata kelola aset komunitas, pembangunan berkelanjutan, serta pemanfaatan teknologi keuangan, menjaga kampung tidak cukup hanya dengan mempertahankan rumah adat atau menggelar festival budaya. Menjaga kampung, menurutnya, berarti memastikan generasi berikutnya memiliki kepemilikan ekonomi yang kuat.
Prinsip yang sering ia sampaikan sederhana namun sarat makna.
“Jaga kampung, jaga adab.”
Nilai itu, menurut David, merupakan warisan para leluhur Betawi yang mengajarkan bahwa kemajuan tidak boleh menghilangkan identitas, dan modernisasi harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap budaya.
Dari Kampung Betawi Menuju Ekonomi Global
Sebagai anak Betawi yang lahir dan besar di Jakarta, David melihat perubahan kota secara langsung. Ia menyaksikan kawasan-kawasan yang dahulu menjadi ruang hidup masyarakat Betawi berubah menjadi pusat bisnis dan permukiman modern.
Baginya, tantangan terbesar bukan sekadar perubahan fisik kota, melainkan bagaimana masyarakat lokal tetap menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi yang tercipta.
Atas dasar itu, ia mengembangkan sebuah gagasan yang memadukan teknologi blockchain, kecerdasan buatan (AI), pasar modal, dan prinsip keuangan hijau (green finance) sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat adat.
Dalam berbagai pemikirannya, David mengusulkan agar aset-aset komunitas—mulai dari hak kelola, kekayaan budaya, hingga potensi ekonomi berkelanjutan—tidak hanya dipandang sebagai warisan sejarah, tetapi juga sebagai modal pembangunan yang dapat dikelola secara profesional, transparan, dan berorientasi jangka panjang.
Menurutnya, teknologi digital dapat membantu meningkatkan transparansi tata kelola, memperkuat pencatatan aset, serta membuka akses pembiayaan yang sebelumnya sulit dijangkau komunitas lokal.
Dari Penerima Bantuan Menjadi Pemilik
David berpendapat bahwa paradigma pembangunan masyarakat adat perlu bergeser.
Selama bertahun-tahun, banyak program pemberdayaan masih bertumpu pada bantuan hibah dan proyek jangka pendek. Sementara itu, tantangan ekonomi terus berkembang semakin kompleks.
Dalam pandangannya, masyarakat adat memerlukan instrumen yang memungkinkan mereka membangun aset produktif, memperkuat kelembagaan ekonomi, dan menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan.
Ia membayangkan hadirnya koperasi modern, perusahaan berbasis komunitas, hingga pemanfaatan pasar modal sebagai salah satu alternatif pembiayaan yang tetap mengedepankan tata kelola yang baik serta kepatuhan terhadap regulasi.
“Bukan sekadar menerima bantuan, tetapi ikut memiliki dan membangun nilai ekonomi,” demikian salah satu gagasan yang kerap ia sampaikan.
Keuangan Hijau Sebagai Jalan Baru
Isu lingkungan menjadi bagian penting dari visi tersebut.
David menilai bahwa ekonomi masa depan akan semakin berkaitan dengan keberlanjutan, konservasi, serta pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab.
Karena itu, ia menaruh perhatian pada berbagai instrumen seperti pembiayaan hijau, investasi berkelanjutan, pasar karbon, hingga digitalisasi tata kelola aset.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang sangat besar untuk menjadi bagian dari transformasi ekonomi hijau dunia apabila dikelola dengan tata kelola yang kuat dan memanfaatkan teknologi secara tepat.
AI dan Blockchain untuk Transparansi
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan blockchain, David melihat peluang baru bagi komunitas lokal.
Teknologi tersebut, menurutnya, bukan sekadar tren digital, tetapi dapat digunakan untuk meningkatkan akuntabilitas, efisiensi administrasi, pencatatan aset, hingga distribusi manfaat ekonomi secara lebih transparan.
Meski demikian, ia juga menekankan bahwa penerapan teknologi harus tetap berada dalam koridor hukum nasional, perlindungan masyarakat, serta tata kelola yang bertanggung jawab.
Menjaga Identitas di Tengah Kota Global
Bagi David, Jakarta sebagai kota global tidak seharusnya membuat masyarakat Betawi kehilangan ruang untuk berkembang.
Sebaliknya, identitas budaya justru dapat menjadi fondasi dalam membangun daya saing ekonomi baru.
Kuliner, seni pertunjukan, kerajinan, sejarah kampung, hingga nilai gotong royong dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan melalui pendekatan ekonomi kreatif, digitalisasi, dan kolaborasi lintas sektor.
Visinya bukan sekadar melestarikan budaya sebagai warisan masa lalu, tetapi menjadikannya bagian dari ekonomi masa depan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menyatukan Tradisi dan Inovasi
Di balik berbagai gagasan tersebut, David tetap memegang satu keyakinan yang ia sebut sebagai pesan para orang tua Betawi.
Bahwa kemajuan tidak boleh membuat seseorang lupa kepada kampungnya.
Bahwa teknologi harus memperkuat nilai kemanusiaan.
Bahwa pembangunan ekonomi seharusnya tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga menjaga martabat masyarakat yang telah lebih dahulu membangun peradaban kota.
Di tengah arus transformasi digital dan ekonomi global, gagasan itu menawarkan sebuah perspektif yang berbeda: modernisasi yang tetap berpijak pada budaya.
Mungkin di situlah letak makna “jaga kampung, jaga adab”—sebuah ajakan agar kemajuan ekonomi berjalan beriringan dengan identitas, keberlanjutan, dan tanggung jawab kepada generasi yang akan datang.
Catatan editorial: bila ditujukan untuk dimuat di media seperti Kompas, artikel akan lebih kuat jika dilengkapi wawancara langsung dengan David Darmawan, tanggapan akademisi, serta data yang telah diverifikasi dari sumber resmi (BPS, OJK, BEI, KLHK, dan AMAN). Selain itu, proyeksi atau simulasi investasi sebaiknya disajikan sebagai gagasan atau skenario, bukan sebagai fakta yang telah terjadi.
Laporan Redaksi: Bar. SilitongA/ foto: istimewa










