Bali, Radar007.com — Suasana haru dan penuh kehangatan terasa saat I Wayan Koster berdiri di hadapan para siswa sekolah dasar di Desa Sembiran. Bukan sekadar kunjungan seremonial, tetapi sebuah momen yang menghadirkan kisah hidup, empati, dan bukti nyata keberpihakan kepada rakyat kecil.
Di hadapan anak-anak, Gubernur Bali itu mengajak mereka mengangkat tangan—menyebutkan satu per satu jenjang kelas. Suasana yang awalnya sederhana berubah menjadi penuh makna ketika ia mulai bercerita tentang masa kecilnya.

Kisah Masa Kecil: Dari Kemiskinan ke Kepedulian
Dengan suara yang tenang namun menyentuh, ia mengungkapkan bahwa dirinya berasal dari keluarga tidak mampu. “Dulu waktu saya sekolah, kondisi kami sangat sederhana. Rumah berlantai tanah, makan pun seadanya—nasi jagung, nasi kladi, bahkan apa adanya,” ungkapnya.
Cerita itu bukan sekadar nostalgia. Itu adalah refleksi bahwa perjuangan hidup bisa menjadi kekuatan untuk membangun masa depan—terutama bagi generasi muda yang hari ini duduk sebagai pelajar.
Janji Nyata: 66 Siswa Dapat Bantuan Rp1 Juta
Dalam momen tersebut, I Wayan Koster tidak hanya berbagi cerita, tetapi juga menghadirkan solusi nyata. Sebanyak 66 siswa menerima bantuan masing-masing Rp1 juta, yang diperuntukkan bagi kebutuhan sekolah.
“Gunakan untuk beli buku, tas, baju sekolah. Jangan dipakai untuk hal yang tidak perlu,” pesannya tegas namun penuh kepedulian.
Bantuan ini menjadi simbol bahwa pemerintah hadir langsung menyentuh kebutuhan dasar pendidikan masyarakat.
Sekolah Rusak, Kini Diperjuangkan Kembali
Koster juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah melihat langsung kondisi sekolah tersebut yang sebelumnya dalam keadaan rusak dan tidak layak digunakan.
Meski sempat mendapat bantuan sekitar Rp30 juta, kondisi itu dinilai belum cukup untuk pemulihan secara menyeluruh.
Kini, Pemerintah Provinsi Bali turun tangan lebih jauh. Sebesar Rp129 juta digelontorkan untuk perbaikan sarana dan prasarana sekolah, termasuk fasilitas belajar seperti meja, kursi, hingga perangkat penunjang pendidikan lainnya.
Dana Gotong Royong: Komitmen untuk Rakyat
Gubernur Bali menjelaskan bahwa bantuan tersebut bersumber dari dana gotong royong yang dikelola pemerintah provinsi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Ia menegaskan, dana tersebut akan terus digunakan untuk memperbaiki fasilitas publik yang tidak layak, termasuk sekolah-sekolah di berbagai wilayah. “Kalau ada yang tidak layak, kita bantu. Supaya jadi bagus, supaya anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” tegasnya.
Tak hanya bangunan, ia juga menyoroti pentingnya lingkungan sekolah yang bersih, hijau, dan tertata.
Bali Bukan Sekadar Pariwisata, Tapi Masa Depan Generasi
Langkah ini menjadi bukti bahwa pembangunan di Bali tidak hanya berfokus pada sektor pariwisata, tetapi juga pada pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.
Bagi Koster, masa depan Bali ada di tangan generasi muda—dan itu dimulai dari ruang kelas yang layak.
Negara Hadir dari Hal yang Paling Dasar
Kisah seorang gubernur yang pernah hidup dalam keterbatasan, kini kembali ke desa untuk membawa perubahan—menjadi pesan kuat bahwa negara tidak boleh jauh dari rakyatnya.
Dari nasi jagung, dari lantai tanah, hingga bantuan nyata untuk pendidikan—ini bukan sekadar program.
Ini adalah komitmen bahwa Bali harus maju bersama rakyatnya, tanpa meninggalkan siapa pun di belakang. Bali bergerak. Bali membangun. Bali untuk semua. (Red/Tim)








