BALI, Radar007.com — Persoalan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU di Bali kembali memunculkan tanda tanya besar. Di tengah tingginya kebutuhan masyarakat terhadap BBM, keluhan mengenai stok yang kerap menipis justru datang dari sejumlah pengusaha SPBU di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.
Kondisi ini tentu tidak bisa dianggap sebagai persoalan kecil.
Sebab, masyarakat membutuhkan kepastian. Kendaraan harus bergerak, aktivitas ekonomi harus berjalan, dan distribusi barang tidak boleh tersendat hanya karena persoalan pasokan yang tidak jelas.
Dua titik penting dalam rantai distribusi BBM Bali, yakni Terminal Manggis di Kabupaten Karangasem dan Terminal Sanggaran di Kota Denpasar, kini patut mendapat perhatian lebih serius.
Terminal Manggis memiliki peran strategis sebagai salah satu pusat penerimaan dan penyaluran BBM, sedangkan Terminal Sanggaran menopang distribusi lanjutan ke sejumlah wilayah, termasuk Denpasar, Badung dan sekitarnya.
Namun pertanyaan kritisnya justru muncul dari lapangan:
Jika sistem distribusi BBM Pertamina berjalan baik, mengapa sejumlah SPBU masih mengeluhkan kekurangan stok?
Pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan kalimat normatif semata.
Sejumlah pemilik SPBU mengaku berada dalam posisi sulit. Mereka dituntut memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, tetapi di sisi lain pasokan yang diterima disebut tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan di lapangan.
“Bagaimana pelayanan kepada masyarakat bisa terpenuhi kalau stok di SPBU selalu kekurangan, sementara kami selalu memenuhi ketentuan dan kebutuhan dari Pertamina?” ujar salah seorang pengusaha SPBU kepada awak media, Rabu (26/82026).
Keluhan tersebut menyentuh persoalan fundamental dalam tata kelola distribusi energi.
Apakah stok di Terminal Manggis dan Sanggaran benar-benar aman?
Jika aman, mengapa pasokan ke sejumlah SPBU bisa tersendat atau terlambat?
Jika stok tidak aman, mengapa informasi mengenai kondisi tersebut tidak disampaikan secara terbuka kepada masyarakat?
Dan jika stok sebenarnya tersedia, di titik mana distribusi mengalami hambatan?
Pertanyaan berikutnya bahkan lebih serius: apakah seluruh volume BBM yang keluar dari terminal benar-benar tercatat, terdistribusi, dan diterima SPBU sesuai peruntukannya?
Di sinilah pentingnya transparansi dan pengawasan.
Jangan sampai persoalan kekurangan stok hanya berhenti pada alasan teknis seperti keterlambatan armada, gangguan distribusi atau tingginya permintaan. Semua alasan tersebut harus dapat diverifikasi dengan data.
Masyarakat berhak mengetahui berapa stok yang tersedia di terminal, berapa volume yang didistribusikan, SPBU mana saja yang menerima pasokan, kapan pengiriman dilakukan, serta apakah terdapat selisih antara volume yang dikirim dengan volume yang diterima.
Sebab BBM bukan barang biasa. BBM menyangkut kepentingan publik dan roda perekonomian daerah.
Terlebih untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar. Ketika pasokan terganggu, masyarakat kecil dan pelaku usaha menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya.
Antrean panjang, SPBU kehabisan stok, kendaraan terpaksa berpindah-pindah mencari BBM, hingga terganggunya aktivitas ekonomi tidak boleh dianggap sebagai fenomena biasa.
Radar007.com juga mempertanyakan sejauh mana pengawasan dilakukan terhadap seluruh rantai distribusi BBM dari terminal hingga SPBU.
Apakah sistem pengawasan benar-benar bekerja atau hanya berjalan di atas kertas?
Pertamina Patra Niaga dan pihak terkait semestinya tidak alergi terhadap pertanyaan tersebut.
Justru semakin strategis komoditasnya, semakin besar pula tuntutan transparansinya.
Jika memang tidak ada masalah, buka datanya.
Jika ada gangguan distribusi, jelaskan penyebabnya.
Jika ditemukan penyimpangan, usut dan tindak.
Dan jika ada oknum yang mencoba bermain di tengah kebutuhan masyarakat, jangan diberi ruang sedikit pun.
Publik Bali tidak membutuhkan sekadar pernyataan bahwa stok BBM “aman”. Publik membutuhkan jaminan yang dapat dibuktikan dengan data dan kondisi nyata di lapangan.
Sebab ketika SPBU kekurangan BBM, pertanyaan masyarakat bukan lagi sekadar “kapan stok datang?”, tetapi “sebenarnya ada apa dengan distribusi BBM di Bali?”
Kini bola berada di tangan Pertamina Patra Niaga dan instansi pengawas.
Jangan biarkan persoalan stok BBM menjadi teka-teki yang terus berulang. Jika distribusi bersih dan transparan, buktikan. Jika ada kebocoran, bongkar. Jika ada permainan, tindak tanpa pandang bulu.
Radar007.com — Berani Karena Benar










