
*PURWOREJO* – Kenaikan harga bahan pokok yang dibarengi naiknya harga BBM membuat masyarakat Purworejo semakin terjepit dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kondisi ini dikeluhkan warga di berbagai pelosok desa dalam beberapa bulan terakhir tahun 2026.
Ketua Suara Independent Jurnalis Indonesia (SIJI) Kabupaten Purworejo, Gus Takim, menyebut situasi ini tidak bisa dianggap enteng. “Warga sekarang benar-benar terjepit. Beras naik, minyak goreng naik, juga kebutuhan bahan pokok lainya naik, ditambah BBM naik. Penghasilan tetap, tapi pengeluaran bengkak semua,” ujarnya, Kamis 11/6/2026.
*Daya Beli Melemah, Warga Kurangi Porsi Makan*
Berdasarkan pantauan SIJI di lapangan, banyak buruh harian, petani, dan pedagang kecil mulai mengurangi porsi makan hingga menunda kebutuhan lain demi beras dan bensin. “Ada warga yang cerita, biasanya beli bensin Rp20 ribu untuk 3 hari kerja, sekarang cuma cukup 2 hari. Untuk ke sawah saja mikir dua kali,” kata Gus Takim.
Ia menegaskan, kenaikan harga beruntun ini memukul telak masyarakat kelas bawah. Padahal, sebagian dari mereka belum tentu terdata sebagai penerima bansos karena terkendala update DTSEN di tingkat desa.
*SIJI Desak Langkah Cepat Pemkab*
Melihat kondisi itu, SIJI Kabupaten Purworejo mendesak Pemerintah Kabupaten untuk hadir dengan langkah konkret. “Jangan tunggu warga teriak lebih kencang. Pemkab harus cepat buka pasar murah, tambah kuota transportasi publik bersubsidi, dan pastikan DTSEN benar-benar menyasar warga yang sekarang jatuh miskin,” tegas Gus Takim.
Ia juga meminta Dinas terkait turun langsung mengecek harga di pasar dan SPBU. “Kalau ada permainan harga atau penimbunan, harus ditindak. Rakyat kecil jangan jadi korban terus,” tambahnya.
Gus Takim mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling menguatkan. “Lapor ke kami atau ke desa kalau ada tetangga yang sudah tidak bisa makan. Gotong royong Purworejo jangan sampai luntur di masa sulit seperti ini.”
Tim Redaksi
www.radar007.com








