*Dulu Kuat Mencangkul, Kini Lumpuh di Kasur: Tangis Bu Tukinem Rawat Suami Stroke Tanpa Biaya*

banner 120x600

µ

*KUTOARJO, PURWOREJO* – Isak tangis pecah di sebuah rumah sederhana di Desa Tepus Wetan, Kecamatan Kutoarjo. Bu Tukinem (70) tak kuasa menahan air mata saat awak media menyambanginya, Kamis 18/6/2026. Di hadapannya, sang suami, Pak Tulus (75), terbaring lemah di atas dipan kayu sejak stroke melumpuhkannya Januari 2026 lalu.

Dulu, tangan keriput pasangan ini akrab dengan cangkul. Sebagai buruh tani, mereka banting tulang dari pagi buta demi sesuap nasi. Kini, semua berubah. Stroke itu merenggut segalanya. Pak Tulus lumpuh, tak bisa lagi bekerja. Roda ekonomi keluarga pun berhenti total.

“Semenjak Bapak sakit, saya yang _ngopeni_ dari mandiin, nyuapin. Sudah nggak bisa ke sawah lagi. Penghasilan ya nggak ada sama sekali,” lirih Bu Tukinem, suaranya bergetar.

*Anak di Rantau Juga Terhimpit, Beban Obat Mencekik*

Harapan satu-satunya sebenarnya ada pada anak semata wayang mereka yang merantau di Jakarta. Namun, takdir berkata lain. Sang anak yang juga hanya seorang ibu rumah tangga, justru ikut terhimpit. Suaminya cuma buruh serabutan, sementara ia harus menghidupi tiga anak: satu SD dan dua masih balita.

“Anak saya mau bantu, tapi dia sendiri susah. Buat makan anaknya aja pas-pasan. Saya nggak tega nuntut,” ucap Bu Tukinem sambil mengusap air mata.

Yang lebih perih, biaya berobat Pak Tulus terus berjalan. Sejak Januari, ia sudah dua kali rawat inap di RSUD Tjitrowardodjo, empat kali kontrol ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ,menurut keterangan Camat Kutoarjo dibantu oleh Yayasan Embun Surga juga di bantu Pemdes tetangga dan sekali rawat inap di sana. Bantuan dari keluarga besar sudah ada, tapi habis untuk ongkos, obat, dan makan sehari-hari.

*Merasa Tak Dilihat, Berharap Uluran Tangan Pemerintah*

Di tengah himpitan itu, ada satu hal yang membuat hati Bu Tukinem makin remuk. “Sampai sekarang kami belum pernah dapat bantuan apa-apa dari desa. Kayak nggak kelihatan gitu, Padahal kondisinya ya seperti ini,” ujarnya pelan.

Setiap hari, Bu Tukinem hanya bisa pasrah dan berdoa di samping suaminya yang terkulai lemah. “Sudah nggak punya tenaga buat kerja, tapi perut laper tiap hari. Bapak juga harus kontrol rutin. Kami cuma bisa pasrah sama Gusti Allah,” katanya.

Kini, Pak Tulus dan Bu Tukinem menggantungkan harapan pada kepedulian. Mereka berharap Pemdes Tepus Wetan, Kecamatan Kutoarjo, hingga Pemkab Purworejo sudi melihat dan mengulurkan tangan. Sekadar untuk menyambung hidup dan biaya berobat Pak Tulus ke depan.

Mustakim

 

www.radar007.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *