Ustaz Dano Jamaludin Saifudin: Cinta Rasulullah Harus Melahirkan Rahmat, Akhlak dan Persaudaraan

Foto: Istimewa

banner 120x600

Dari Sekretariat Majelis Taklim Basyaairul Khaeraat Indonesia, Jou Guru mengajak umat menjadikan Maulid Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar seremoni, melainkan momentum membebaskan hati dari hawa nafsu, memperbaiki akhlak, serta merawat persatuan dan tanggung jawab kebangsaan.

JAKARTA, RADAR 007 — Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ tidak semestinya berhenti pada lantunan shalawat, ceramah, maupun kemeriahan seremoni. Lebih dari itu, Maulid harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan nyata, sekaligus menjadi energi spiritual dalam merawat persatuan, kemanusiaan dan kemerdekaan Indonesia.

Pesan tersebut disampaikan Ustaz Dano Jamaludin Saifudin (Jou Guru), Khadim Majelis Taklim Basyaairul Khaeraat Indonesia, dalam hikmah Maulid Nabi Muhammad ﷺ yang berlangsung di Sekretariat Majelis Taklim Basyaairul Khaeraat Indonesia, Jalan Warakas II Gang II C No. 61A, RT 004/RW 06, Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Kota Administrasi Jakarta Utara, Jumat, 28 Agustus 2026.

Mengangkat refleksi tentang Maulid dan Kemerdekaan sebagai dua momentum dengan satu pesan, Jou Guru mengajak jamaah melihat hubungan yang lebih mendalam antara kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, penyucian jiwa, dan tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Menurutnya, Maulid mengingatkan umat kepada kelahiran Rasulullah ﷺ sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam, sedangkan kemerdekaan mengingatkan bangsa Indonesia kepada perjuangan para pendahulu dalam membebaskan negeri dari penjajahan.

Namun, di tengah peringatan dua momentum besar tersebut, terdapat satu pertanyaan mendasar yang patut dijawab oleh setiap manusia:

Sudahkah kita benar-benar merdeka secara batin?

Bangsa Merdeka Membutuhkan Manusia yang Merdeka Jiwanya

Ustaz Dano Jamaludin Saifudin menegaskan bahwa kemerdekaan tidak hanya memiliki dimensi lahiriah. Ada kemerdekaan yang jauh lebih dalam, yaitu kemerdekaan jiwa.

Bangsa Indonesia telah merdeka dari penjajahan fisik. Namun manusia, menurutnya, masih dapat menjadi tawanan dari keserakahan, kebencian, kesombongan, ambisi terhadap popularitas, jabatan, harta, bahkan amarahnya sendiri.

Dalam perspektif tasawuf irfani, kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan untuk menuruti seluruh keinginan, melainkan kemampuan untuk membebaskan diri dari perbudakan hawa nafsu yang menjauhkan manusia dari Allah سبحانه وتعالى.

Ia mengingatkan firman Allah سبحانه وتعالى dalam QS. Asy-Syams ayat 9–10:

«قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا»

«“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”»

Dari sinilah, makna kemerdekaan memperoleh dimensi yang lebih luas.

Merdeka bukan hanya negerinya, tetapi juga jiwanya.

Maulid Bukan Sekadar Mengenang, tetapi Menghidupkan Akhlak

Jou Guru mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ bukan hanya sosok yang dicintai dan diperingati kelahirannya, tetapi juga teladan yang harus dihidupkan dalam perilaku sehari-hari.

Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21:

«لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ»

«“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.”»

Karena itu, ukuran keberhasilan peringatan Maulid tidak semata-mata terletak pada seberapa besar dan meriah sebuah acara diselenggarakan, tetapi pada seberapa jauh akhlak Rasulullah ﷺ benar-benar hidup dalam diri orang-orang yang memperingatinya.

Jika Rasulullah ﷺ dikenal dengan kelembutannya, maka umat harus belajar melembutkan hati.

Jika Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pribadi yang pemaaf, maka umat harus belajar melepaskan dendam.

Jika Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pribadi yang amanah, maka umat harus belajar menjaga kepercayaan.

Jika Rasulullah ﷺ menyayangi kaum lemah, maka umat harus membuka mata terhadap penderitaan sesama.

Dan jika Rasulullah ﷺ membangun persaudaraan di tengah perbedaan, maka umat harus belajar menjadikan perbedaan sebagai ruang untuk saling mengenal, bukan alasan untuk saling merendahkan.

“Maulid bukan hanya tentang bagaimana kita mengingat kelahiran Nabi ﷺ, tetapi bagaimana kita melahirkan kembali akhlak Nabi ﷺ dalam kehidupan kita,” demikian inti pesan Jou Guru dalam tausiyahnya.

Cinta kepada Nabi Harus Melahirkan Rahmat

Lebih jauh, Ustaz Dano mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

«وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ»

«“Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”»

(QS. Al-Anbiya: 107)

Menurutnya, ayat tersebut harus menjadi cermin bagi perilaku umat Islam.

Jika seseorang benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, maka cintanya semestinya menjadikan dirinya sebagai sumber ketenteraman, bukan keresahan; pembawa kasih sayang, bukan kebencian; serta penguat persaudaraan, bukan pemecah belah.

“Jangan menyakiti jika mampu mengasihi. Jangan menghina jika mampu menghormati. Jangan menyebarkan keburukan jika mampu menyebarkan kebaikan. Jangan memperbesar perbedaan jika mampu memperkuat persaudaraan,” menjadi pesan moral yang ditekankan dalam renungan tersebut.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ»

«“Barang siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.”»

(HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan yang sederhana tersebut, menurut Ustaz Dano, dapat menjadi kekuatan moral yang besar apabila benar-benar dihidupkan dalam kehidupan masyarakat.

Madinah Mengajarkan: Berbeda Tidak Harus Bermusuhan

Dalam konteks kehidupan kebangsaan, Jou Guru mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kehidupan Rasulullah ﷺ di Madinah.

Keberagaman tidak selalu harus berujung pada konflik. Masyarakat dapat hidup berdampingan apabila perbedaan dikelola dengan keadilan, persaudaraan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama.

Pesan tersebut sangat relevan bagi Indonesia sebagai bangsa besar yang dibangun dari keberagaman suku, budaya, bahasa, tradisi dan kehidupan sosial.

Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

«وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا»

«“Dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal.”»

Kata lita’arafu, menurut Ustaz Dano, mengandung pesan agar manusia membangun hubungan melalui proses saling mengenal, memahami dan menghormati, bukan saling membenci.

Perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan. Keragaman bukan alasan untuk saling merendahkan.

Dalam konteks Indonesia, semangat tersebut merupakan bagian penting dalam merawat persatuan dan masa depan bangsa.

Pancasila dan Akhlak Kenabian

Hikmah Maulid juga diarahkan kepada refleksi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ustaz Dano mengajak jamaah melihat nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi kehidupan bersama yang mengandung pesan moral tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial.

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, memiliki titik temu yang kuat dengan akhlak kenabian.

Manusia harus menghormati martabat sesamanya, menjaga persatuan, mengedepankan musyawarah, berlaku adil, serta menyadari bahwa setiap amanah pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

«“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”»

(HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan tersebut tidak hanya ditujukan kepada pemimpin negara atau pejabat.

Orang tua memiliki amanah.

Guru memiliki amanah.

Pengusaha memiliki amanah.

Aparatur memiliki amanah.

Pemimpin memiliki amanah.

Masyarakat pun memiliki amanah.

Karena itu, kemerdekaan bukan sekadar hak untuk menikmati kebebasan.

Kemerdekaan adalah amanah untuk menghadirkan kemaslahatan.

Ma’rifatullah: Agar Manusia Tidak Menjadi Hamba Dunia

Dalam perspektif tasawuf, Ustaz Dano mengajak umat menjadikan ma’rifatullah sebagai orientasi kehidupan.

Ketika manusia mengenal Allah سبحانه وتعالى, ia akan semakin menyadari dirinya sebagai hamba. Kesadaran tersebut justru membebaskan manusia dari ketergantungan berlebihan kepada makhluk dan dunia.

Harta dapat berubah.

Jabatan dapat berganti.

Popularitas dapat datang dan pergi.

Pujian manusia pun tidak selamanya bertahan.

Namun Allah سبحانه وتعالى tetap menjadi pusat kehidupan.

Ia mengingatkan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28:

«أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ»

«“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”»

Dari sinilah kemerdekaan jiwa menemukan maknanya.

Manusia tidak lagi menjadikan harta, jabatan, popularitas, ataupun dunia sebagai “tuhan-tuhan kecil” yang mengendalikan hati dan perilakunya.

Musuh Terbesar Kemerdekaan Batin Bisa Bersemayam di Dalam Diri

Salah satu pesan penting dalam hikmah Maulid tersebut adalah ajakan untuk berani melakukan introspeksi.

Menurut Ustaz Dano, musuh kemerdekaan batin tidak selalu datang dari luar.

Terkadang, musuh itu justru bersemayam di dalam diri manusia sendiri.

Namanya adalah nafsu.

Nafsu yang tidak dikendalikan dapat melahirkan keserakahan.

Ego yang tidak ditundukkan dapat melahirkan kesombongan.

Kebencian yang dipelihara dapat melahirkan permusuhan.

Fanatisme yang kehilangan kebijaksanaan dapat membuat seseorang sulit melihat kebenaran dan keadilan.

Karena itu, perjalanan spiritual tidak hanya berbicara tentang memperbanyak amal secara lahiriah, tetapi juga tentang membersihkan hati dan menundukkan ego.

Dalam khazanah tasawuf, perjalanan tersebut dikenal melalui berbagai tahapan penyucian jiwa, seperti taubat, sabar, syukur, tawakal dan mahabbah.

Semakin dekat manusia kepada Allah, semestinya semakin tunduk pula egonya.

Setelah Maulid, Apa yang Berubah?

Pada akhirnya, Ustaz Dano mengajak jamaah untuk tidak hanya bertanya tentang seberapa meriah peringatan Maulid diselenggarakan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah setelah Maulid kita menjadi lebih baik?

Apakah hati menjadi lebih lembut?

Apakah kita semakin mudah memaafkan?

Apakah kita semakin amanah?

Apakah kita semakin peduli kepada sesama?

Apakah persaudaraan semakin kuat?

Begitu pula dalam kehidupan berbangsa:

Setelah puluhan tahun Indonesia merdeka, apakah kita semakin bertanggung jawab terhadap negeri ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurutnya, jauh lebih penting daripada sekadar kemeriahan seremoni.

Sebab Maulid yang hidup adalah Maulid yang melahirkan perubahan.

Dan kemerdekaan yang bermakna adalah kemerdekaan yang menghadirkan keadilan, kemaslahatan dan martabat bagi masyarakat.

Dua Momentum, Satu Pesan

Dari Sekretariat Majelis Taklim Basyaairul Khaeraat Indonesia, hikmah Maulid yang disampaikan Ustaz Dano Jamaludin Saifudin membawa satu pesan kuat:

Maulid mengajarkan akhlak.

Kemerdekaan mengajarkan tanggung jawab.

Tasawuf mengajarkan penyucian jiwa.

Ma’rifatullah mengajarkan manusia mengenal Allah dan membebaskan diri dari penghambaan kepada selain-Nya.

Sementara kehidupan kebangsaan mengajarkan pentingnya persatuan, kemanusiaan, musyawarah dan keadilan.

Semuanya bertemu dalam satu cita-cita:

Melahirkan manusia Indonesia yang merdeka jiwanya, mulia akhlaknya, kuat persaudaraannya, dan nyata pengabdiannya kepada bangsa serta sesama.

Karena itu, Maulid bukan hanya peringatan masa lalu.

Maulid adalah panggilan untuk memperbaiki hari ini.

Dan kemerdekaan bukan hanya warisan masa lalu.

Kemerdekaan adalah amanah untuk membangun masa depan.

Menutup hikmah Maulid, Ustaz Dano Jamaludin Saifudin mengajak seluruh jamaah untuk menjaga cahaya risalah Nabi Muhammad ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan sampai shalawat hanya hidup di lisan, sementara akhlak Rasulullah ﷺ tidak hadir dalam perilaku.

Jangan sampai simbol kemerdekaan berkibar di ruang publik, tetapi kejujuran, keadilan dan tanggung jawab justru kehilangan tempat dalam kehidupan.

Harapannya, peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ menjadi pintu untuk memperbarui cinta kepada Rasulullah ﷺ, memperhalus akhlak, membersihkan jiwa dan semakin mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى.

Sementara kemerdekaan Indonesia terus dirawat melalui pengabdian yang jujur, persaudaraan yang kokoh, kepedulian terhadap sesama dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

“Merdeka bangsanya, bersih jiwanya, mulia akhlaknya, kokoh persaudaraannya, dan terang jalannya menuju Allah.”

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Majelis Taklim Basyaairul Khaeraat Indonesia
Jakarta Utara, 28 Agustus 2026
(Red/Bar.S)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *