Medan, Radar007.com — Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 menjadi ruang refleksi kebangsaan yang melampaui seremoni tahunan. Melalui poster ucapan HPN 2026, Kus Angelia Tarigan, S.Pd., Gr., Guru Sejarah SMK Negeri 7 Medan, Sumatera Utara, mengajak publik memaknai pers sebagai kekuatan historis yang membentuk kesadaran nasional dan menjaga arah perjalanan bangsa.
Dalam perspektif sejarah, pers hadir bukan hanya sebagai penyampai peristiwa, melainkan arsip hidup peradaban. Sejak masa kolonial, pers telah menjadi alat perjuangan intelektual, sarana penyadaran rakyat, hingga medium perlawanan terhadap ketidakadilan. Jejak itu terus berlanjut hingga era digital saat ini.
“Pers tidak hanya memberitakan kejadian, tetapi menanamkan ingatan. Dari sanalah bangsa belajar, bercermin, dan menentukan arah masa depannya,” ujar Kus Angelia Tarigan dalam pernyataan reflektifnya menyambut Hari Pers Nasional 2026.
Sebagai pendidik sejarah, ia menegaskan bahwa tanpa pers yang berintegritas, sejarah akan kehilangan ruh kebenaran. Pers dan sejarah memiliki hubungan yang saling menguatkan: sejarah memberi makna pada peristiwa, sementara pers memastikan peristiwa itu tidak tenggelam dalam lupa.
“Apa yang hari ini ditulis pers, kelak akan dibaca generasi berikutnya sebagai sejarah. Karena itu, pers memikul tanggung jawab moral yang sangat besar terhadap bangsa,” tegasnya.
Poster HPN 2026 yang menampilkan simbol kamera, mikrofon, dan dinamika ruang jurnalistik merepresentasikan peran pers sebagai penjaga nalar publik. Dalam konteks nasional, pers menjadi pilar penting demokrasi yang menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan kepentingan rakyat.
Lebih jauh, Kus Angelia memandang bahwa pers dan pendidikan berada dalam satu garis perjuangan kebangsaan. Guru mendidik melalui proses pembelajaran, sementara pers mendidik melalui ruang publik yang lebih luas dan inklusif.
“Jika pendidikan membentuk karakter di ruang kelas, maka pers membentuk karakter bangsa di ruang kesadaran bersama,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus informasi, disrupsi digital, serta maraknya hoaks dan distorsi fakta, peringatan Hari Pers Nasional 2026 menjadi pengingat akan pentingnya pers yang berpegang pada etika, objektivitas, dan tanggung jawab sejarah. Tanpa itu, bangsa berisiko kehilangan orientasi nilai dan arah peradaban.
Melalui momentum HPN 2026, Kus Angelia Tarigan juga mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi menjadi pembaca kritis yang memahami bahwa setiap berita adalah bagian dari proses sejarah yang sedang ditulis.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, dan sejarah hanya akan hidup jika pers menjaga kebenaran,” pungkasnya.
Selamat Hari Pers Nasional 2026. Pers berintegritas, sejarah terjaga, Indonesia bermartabat.(Red)










