Garut (Jabar), Radar007.com — Semangat perjuangan dalam sejarah Islam kembali menjadi refleksi di bulan suci Ramadan. Hal itu disampaikan oleh Dera HR, yang dikenal sebagai intelektual Marxist Nahdiyin, dalam wawancara eksklusif bersama Radar007.com, Rabu (4/3/2026) pukul 00.23 WIB di Ruang Publik Garut.
Dalam pandangannya, semangat yang diwariskan dari tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam menjadi simbol keberanian yang terus hidup dalam menghadapi ketidakadilan.
“Sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW berperang melawan Quraisy dalam Perang Badar di bulan suci Ramadan. Peristiwa itu menjadi simbol kemenangan iman atas kekuatan yang secara kasatmata tampak jauh lebih besar. Hari ini, pola sejarah tersebut seakan menemukan relevansinya kembali, meski dalam konteks dan bentuk yang berbeda,” ujar Dera.
Ia menilai bahwa langkah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam mendukung perlawanan terhadap apa yang ia sebut sebagai kezaliman Zionisme, dipandangnya bukan semata tindakan politik atau militer, melainkan bagian dari narasi panjang perjuangan melawan ketidakadilan.
“Ada benang merah sejarah yang menghubungkan keberanian masa lalu dengan dinamika perlawanan hari ini,” tambahnya.
Ajakan Persatuan Melampaui Perbedaan
Di momen Ramadan yang sarat makna spiritual, Dera mengajak umat Islam untuk menanggalkan sekat-sekat perbedaan mazhab dan aliran yang kerap memicu perpecahan internal.
“Mari kita tidak terjebak pada sikap hipokrit dalam beragama. Perbedaan pandangan tidak boleh menghalangi kita melihat realitas ketidakadilan yang nyata. Ketika ada pihak yang tertindas dan ada pihak yang menindas, maka garis moralnya harus lebih jelas daripada sekadar perbedaan internal,” tegasnya.
Ia juga mengimbau agar solidaritas terhadap Palestina dibangun atas dasar nilai kemanusiaan dan keadilan universal.
“Mari kita memberikan dukungan tulus kepada mereka yang membela Palestina, tanpa terjebak pada perbedaan latar belakang. Selama langkah tersebut merupakan pembelaan terhadap yang lemah dan penolakan terhadap penindasan, maka itu adalah bagian dari prinsip keadilan,” ujarnya.
Harapan dan Doa
Di akhir refleksinya, Dera menyampaikan harapan agar nilai-nilai keadilan dan keberanian tetap menjadi fondasi perjuangan umat.
“Semoga Allah SWT menganugerahkan kemenangan bagi mereka yang memperjuangkan kebenaran, sebagaimana kemenangan yang diberikan dalam Perang Badar. Kemenangan sejati bukan sekadar perubahan peta kekuatan, tetapi penegasan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya,” tuturnya.
Pesan Moral
Wawancara ini menegaskan pesan bahwa nilai kebenaran dan keadilan melampaui batas mazhab, aliran, maupun perbedaan pandangan politik. Persatuan tidak berarti menyeragamkan seluruh perbedaan, tetapi mampu berdiri bersama ketika prinsip kemanusiaan dan keadilan diuji.
Sejarah, menurut refleksi tersebut, selalu menunjukkan bahwa keberanian membela yang lemah dan menolak penindasan merupakan nilai universal. Pada akhirnya, kemenangan sejati bukan semata milik mereka yang memiliki kekuatan, melainkan milik mereka yang konsisten memegang prinsip keadilan.(Zarase)









