Penuh Haru dan Bahagia! Dharma Suaka Pawiwahan Made Dwi & Yasinta Satukan Dua Keluarga Besar di Petang

banner 120x600

Badung (Bali), Radar007.com — Suasana penuh haru, kebahagiaan, dan nuansa sakral mewarnai prosesi Dharma Suaka Tangga Pawiwahan pasangan Made Dwi Krismiantara dengan Ni Komang Yasinta Regina yang digelar pada Sabtu, 28 Maret 2026, di Banjar/Dusun/Desa Belok, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali.

Prosesi ini menjadi momentum penting dalam perjalanan cinta kedua mempelai, sekaligus ajang penyatuan dua keluarga besar dalam balutan adat dan nilai luhur budaya Hindu Bali.

Mengutip sloka suci dalam Atharva Veda 7.52.1, “Sahna vavatu, sahanau bhunaktu, saviryam karavavahai”, yang bermakna harapan agar pasangan saling melindungi, saling menguatkan, serta membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis melalui jalan dharma.

Cinta yang Dipersatukan dalam Dharma

Dengan penuh rasa dan cinta, kedua calon mempelai tampil bahagia dan optimis menjalani prosesi Dharma Suaka. Kegiatan ini merupakan tahapan penting dalam tradisi Hindu Bali sebagai bentuk peminangan (memadik/ngidih), guna mempererat komunikasi dan kesepahaman antar keluarga besar sebelum memasuki jenjang pernikahan.

Made Dwi Krismiantara merupakan putra kedua dari pasangan Jro Nyoman Sarjana dan Ni Made Ayu Kompyang Ayu Sriati, yang berasal dari Banjar Dinas Dharma Semadi, Desa Tukadmungga, Kabupaten Buleleng. Sementara Ni Komang Yasinta Regina adalah putri ketiga dari almarhum Made Astawa dan Ni Luh Sukerti Asih dari Banjar Dinas Babakan, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

Prosesi Sakral Penuh Makna

Dharma Suaka berlangsung dengan khidmat dan penuh makna. Kedua keluarga besar tampak saling memahami dan memberikan restu mendalam kepada pasangan calon mempelai.

Keluarga pihak perempuan dengan penuh kebanggaan menyatakan kesiapan untuk melanjutkan ke tahapan berikutnya, yakni Dharma Laksana, yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 13 April 2026 di lokasi yang sama.

Rangkaian prosesi akan dilanjutkan dengan mebasang, pengesahan melalui Tri Upasaksi: Saksi Bhuta (alam), Saksi Manusia (adat dan masyarakat), hingga Saksi Dewa (melalui persembahyangan kepada leluhur dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa).

Kebersamaan yang Hangat dan Penuh Makna

Kehangatan begitu terasa dalam setiap momen. Tangis haru, senyum bahagia, serta tepuk tangan keluarga mengiringi perjalanan prosesi Dharma Suaka.

Manggala karya, I Gede Artana, SH., MH., mengemas jalannya acara dengan penuh nilai kebersamaan, mengedepankan prinsip “Paras-Paros, Salunglung Sabayantaka, Sarpanaya” kebersamaan dalam suka dan duka.

Kehadiran para pelingsir, Jro Mangku, serta tokoh keluarga lainnya semakin menambah sakral suasana. Bahkan secara spiritual, disebutkan adanya restu sekala dan niskala dari almarhum Made Astawa yang menjadi simbol doa dan anugerah bagi kedua mempelai.

Perjalanan Cinta Menuju Grehastha Asrama

Prosesi ini merupakan kelanjutan dari pertemuan keluarga sebelumnya pada 22 Februari 2026, yang menjadi awal penguatan hubungan kedua keluarga.

Kini, Ade (Made Dwi) dan Yasinta mantap melangkah menuju Grehastha Asrama (kehidupan berumah tangga), dengan pemahaman bahwa keluarga adalah fondasi utama kehidupan tempat tumbuhnya cinta, harmoni, dan kesejahteraan.

Bagi keduanya, cinta yang mereka jalani adalah anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang harus dijaga dengan kesetiaan, saling pengertian, dan tanggung jawab.

Menuju Hari Bahagia

Rangkaian pawiwahan akan mencapai puncaknya pada: 15 April 2026 (pagi): Natab Ayaban Pawiwahan, dan 15 April 2026 (siang): Dharma Sawitra (Resepsi)

Kedua keluarga besar mengundang doa restu dari seluruh kerabat, sahabat, dan masyarakat agar prosesi berjalan lancar serta kedua mempelai mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin.

Sebagaimana makna sloka suci, harapan besar disematkan agar pasangan ini mampu saling melindungi, menguatkan, dan membangun kehidupan yang penuh dharma. (Rahayu/Red/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *