Viral dan Bikin Gaduh! Video Koster–Ni Luh Djelantik Diduga Dipelintir, Ini Fakta Sebenarnya

Foto: Istimewa

banner 120x600
Denpasar | Radar007.com

Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan beredarnya potongan video yang menampilkan pertemuan I Wayan Koster dengan Ni Luh Djelantik di Art Center, Denpasar.

Dalam hitungan jam, video singkat tersebut menyebar luas di platform seperti TikTok dan Instagram, disertai narasi yang menuding Gubernur Bali bersikap tidak menghargai. Konten itu pun langsung memicu polemik dan memancing beragam reaksi publik.

Namun di balik viralnya video tersebut, fakta di lapangan ternyata tidak sesederhana yang terlihat dalam potongan gambar berdurasi beberapa detik itu.

Peristiwa tersebut terjadi saat Gubernur Bali tengah menjalankan tugas penting sebagai tuan rumah dalam acara Dharma Shanti Nasional. Saat itu, ia sedang bergegas menyambut kedatangan Pratikno yang telah memasuki area acara.

Dalam situasi yang serba cepat dan penuh tekanan protokoler, Koster tampak berjalan tergesa menuju pintu utama. Di tengah langkahnya, ia berpapasan dengan sejumlah tokoh, termasuk Ni Luh Djelantik.

Meski dalam kondisi terburu-buru, Koster tetap menyempatkan diri untuk menyalami. Namun, momen singkat saat tangan terlepas itulah yang kemudian dipotong dan disebarluaskan tanpa konteks utuh—menciptakan persepsi berbeda di mata publik.

Tim Komunikasi Gubernur Bali pun angkat bicara. Mereka menilai narasi yang berkembang tidak mencerminkan kejadian sebenarnya dan cenderung mengarah pada penggiringan opini.

“Sangat disayangkan, karena situasi saat itu jelas beliau sedang tergopoh-gopoh menjalankan tugas untuk menyambut tamu negara,” ujar perwakilan tim komunikasi, Minggu (19/4/2026).

Lebih jauh, disebutkan bahwa pihak yang bersangkutan sebenarnya berada di lokasi dan mengetahui langsung situasi tersebut. Namun, video yang beredar justru menampilkan potongan yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Fenomena ini kembali menjadi pengingat betapa kuatnya pengaruh potongan konten di era digital. Dalam hitungan detik, sebuah narasi dapat terbentuk, menyebar, dan membentuk opini publik—tanpa selalu menghadirkan fakta secara utuh.

Pihak Pemerintah Provinsi Bali menilai penyebaran video dengan narasi yang tidak lengkap seperti ini bukan hanya berpotensi merugikan secara personal, tetapi juga dapat memicu kegaduhan di tengah masyarakat.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terpancing oleh konten yang belum tentu menggambarkan keseluruhan kejadian.

“Jangan sampai kita ikut menyebarkan informasi yang justru memperkeruh suasana. Bali harus tetap dijaga dalam suasana yang damai dan harmonis,” tegasnya.

Hingga kini, belum ada tanggapan lanjutan dari pihak Ni Luh Djelantik terkait polemik yang berkembang. Publik pun diharapkan dapat menyikapi peristiwa ini secara bijak—melihat fakta secara utuh, bukan sekadar dari potongan video yang viral.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *