*Pererat Silaturahmi, PWRI Purworejo Gelar Halalbihalal dan Temu Kangen di Jatingaran*

banner 120x600

Purworejo – Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Purworejo menggelar halalbihalal dan temu kangen di Desa Jatingaran, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Minggu (26/4/2026). Acara berlangsung di kediaman Bendahara PWRI, Joko Hartono.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PWRI Purworejo Alex Saputra beserta pengurus dan anggota PWRI. Turut hadir sahabat PWRI, Ketua SIJI Purworejo, Mustakim yang akrab disapa Gus Takim.

Dalam sambutannya, Ketua PWRI Alex Saputra menyampaikan bahwa kegiatan ini digelar untuk membangun soliditas antaranggota sekaligus mengakrabkan satu sama lain.

“Memang kegiatan ini digelar sederhana karena keterbatasan waktu. Yang terpenting acara berjalan khidmat, mempererat silaturahmi, serta memperkenalkan anggota-anggota baru PWRI,” ujarnya.

Alex mengajak seluruh anggota membangun PWRI dengan berkarya secara profesional sebagai jurnalis. “Mari kita bangun PWRI dengan cara berkarya penuh profesional sebagai jurnalis,” tutur Alex.

Sementara itu, Ketua SIJI, Gus Takim, menegaskan bahwa halalbihalal tidak harus terpaku pada bulan Syawal. Yang terpenting adalah makna silaturahmi yang terkandung di dalamnya.

Gus Takim menjelaskan, halalbihalal merupakan tradisi bangsa Indonesia yang dirintis Pangeran Sambernyawa bergelar Mangkunegara I pada 1850. Saat itu, Mangkunegaran tengah dilanda perselisihan keluarga besar, sehingga Pangeran Sambernyawa menggelar halalbihalal.

“Menurut orang Jawa, halalbihalal bermakna menyelesaikan benang yang ruwet. Dalam bahasa Arab, halal artinya boleh,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada 1948 bangsa Indonesia hampir terpecah. Atas saran KH Wahab Chasbullah, Presiden Soekarno menggelar halalbihalal sehingga tercipta kerukunan dan persatuan kembali.

Menurut Gus Takim, PWRI perlu mengadakan halalbihalal untuk membangun kekompakan dan kesolidan. “Jika insan pers kompak, kasus korupsi dan penyalahgunaan hukum pasti bisa diminimalisasi, setidaknya tindakan yang merugikan rakyat dapat ditekan,” tegasnya.

Ia berpesan, wartawan harus bersinergi tetapi tidak boleh berafiliasi. “Wartawan adalah corong masyarakat. Masyarakat butuh informasi yang akurat dan tepat, bukan hoaks. Jaga kekompakan sesama anggota PWRI, dan umumnya seluruh insan jurnalis,” pungkas Gus Takim.

Mustakim

 

www.radar007.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *