Jakarta, Radar007.com
Di tengah melemahnya nilai rupiah dan meningkatnya biaya hidup masyarakat, nasib guru honorer di Indonesia dinilai semakin memprihatinkan. Prof Dr Sutan Nasomal SH, MH menegaskan bahwa para guru honorer kini berada dalam kondisi yang sangat terhimpit secara ekonomi, bahkan banyak yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Menurut Prof Dr Sutan Nasomal, ironisnya kondisi tersebut terjadi di tengah citra Indonesia sebagai negara kaya raya. Namun kekayaan bangsa dinilai belum mampu menghadirkan kesejahteraan yang merata, terutama bagi para pejuang pendidikan yang selama ini menjadi pondasi kemajuan bangsa.
“Guru adalah pencetak generasi bangsa, tetapi kenyataannya hingga hari ini masih banyak guru honorer hidup dalam keterbatasan. Penghasilan mereka bahkan jauh di bawah standar kehidupan layak. Ini sangat memprihatinkan,” tegas Prof Dr Sutan Nasomal kepada media, Kamis (21/05/2026).
Ia menyebut, banyak guru honorer hanya menerima penghasilan minim, sementara kebutuhan pokok terus meningkat akibat tekanan ekonomi dan melemahnya rupiah. Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi memicu krisis minat masyarakat untuk menjadi tenaga pendidik di masa depan.
“Bagaimana bangsa ini mau maju jika guru yang mendidik anak-anak bangsa justru hidup susah? Bahkan ada guru yang setelah mengajar harus menjadi pemulung demi bertahan hidup. Ini tamparan keras bagi dunia pendidikan Indonesia,” ujarnya.
Prof Dr Sutan Nasomal menilai perhatian pemerintah terhadap guru honorer memang mulai terlihat melalui skema PPPK, namun hal itu dinilai belum cukup untuk menjawab persoalan kesejahteraan secara menyeluruh.
Ia meminta Presiden RI segera mengambil langkah nyata dan kebijakan khusus untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer di seluruh Indonesia. Sebab, menurutnya, kemajuan sebuah negara tidak pernah lepas dari peran besar para guru.
“Di balik lahirnya pejabat, pemimpin, ilmuwan hingga presiden, ada peran guru yang mendidik mereka sejak tidak bisa membaca hingga menjadi manusia yang berhasil. Tetapi kenapa nasib guru justru masih jauh dari kata sejahtera?” katanya.
Prof Dr Sutan Nasomal juga mengajak seluruh pakar ekonomi, akademisi, dan pemangku kebijakan menjadikan momentum Hari Kebangkitan Nasional sebagai gerakan bersama untuk memperjuangkan kehidupan guru honorer agar lebih layak dan bermartabat.
Ia menegaskan, negara yang besar bukan hanya dilihat dari kekayaan alamnya, tetapi dari sejauh mana negara mampu memuliakan guru dan mengangkat kesejahteraan rakyatnya.
“Jangan sampai Indonesia hanya dikenal sebagai negara kaya dalam buku pelajaran, tetapi masyarakatnya, termasuk guru, masih hidup dalam kesulitan. Pendidikan harus menjadi prioritas utama jika bangsa ini ingin keluar dari kemiskinan dan ketimpangan sosial,” pungkasnya.
Narasumber:
Sutan Nasomal — Pakar Hukum Internasional, Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, sekaligus Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS.






