Amerika Mulai Panik Hadapi Iran, China Jadi Harapan Baru Diplomasi dan Perdagangan Dunia

Foto: Ilustrasi

banner 120x600
Jakarta, Radar007.com 

Gejolak geopolitik dunia semakin memanas. Ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, Israel, Rusia, dan China kini dinilai memasuki fase paling berbahaya dalam sejarah modern. Situasi ini memunculkan kekhawatiran global terhadap potensi perang besar yang dapat mengguncang ekonomi, energi, hingga stabilitas politik internasional.

Pakar Hukum Internasional sekaligus Ekonom Nasional, Sutan Nasomal, menilai langkah Presiden Amerika Serikat mendekati China merupakan sinyal kepanikan diplomatik sekaligus pengakuan bahwa dominasi Amerika mulai melemah di mata dunia.

“Amerika kini berusaha membuka lembaran baru dengan China melalui jalur perdagangan dan negosiasi ekonomi. Ini bukan sekadar bisnis, tetapi bagian dari strategi menyelamatkan pengaruh global mereka yang terus tertekan akibat konflik berkepanjangan,” ujar Prof Dr Sutan Nasomal SH MH di kawasan Cijantung, Jakarta, Kamis (22/5/2026).

Menurutnya, kegagalan Amerika Serikat bersama Israel melumpuhkan kekuatan Iran dalam beberapa bulan terakhir telah mengguncang citra “negara adidaya” yang selama puluhan tahun melekat pada Amerika.

Ia menilai, kedekatan Amerika dengan China juga memiliki misi tersembunyi, yakni membuka jalur komunikasi dengan Iran agar ketegangan di kawasan Timur Tengah dapat mereda, termasuk keamanan jalur strategis Selat Hormuz yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.

“Selama ini dunia melihat Amerika sebagai kekuatan terbesar. Namun perang tahun 2026 membuka mata banyak negara bahwa Iran ternyata memiliki ketahanan militer dan strategi yang tidak bisa dianggap remeh,” tegasnya.

Ancaman Perang Nuklir dan Blok Kekuatan Baru

Prof Sutan Nasomal juga menyoroti munculnya poros kekuatan baru yang disebut melibatkan Iran, China, Rusia, dan Korea Utara. Menurutnya, komunikasi politik dan militer di antara negara-negara tersebut berpotensi menjadi ancaman serius bagi Amerika dan Israel.

Ia bahkan memperingatkan kemungkinan eskalasi konflik menuju perang nuklir berskala menengah hingga besar apabila diplomasi internasional gagal meredam situasi.

“Dunia sedang berada di persimpangan sejarah. Jika ego politik dan perebutan pengaruh terus dipertahankan, maka perang besar bukan lagi sekadar prediksi, tetapi ancaman nyata,” katanya.

Korban jiwa dari konflik di Iran, Lebanon, dan Yaman disebut telah mencapai ribuan orang. Sementara biaya perang hingga Mei 2026 diperkirakan menembus angka triliunan rupiah dengan kerugian kehancuran infrastruktur yang jauh lebih besar.

Timur Tengah Salah Membaca Iran

Dalam pandangannya, banyak negara Timur Tengah dinilai salah memperhitungkan kemampuan Iran. Ketangguhan Iran menghadapi tekanan militer Amerika dan Israel justru menciptakan kekhawatiran baru di kalangan elite politik dan penguasa kawasan.

“Banyak negara mulai takut terhadap perubahan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Ketahanan Iran telah mengubah peta geopolitik dan membuat banyak pihak gelisah,” ujarnya.

Ia juga memprediksi, perebutan sumber daya alam seperti minyak dan gas akan menjadi pemicu utama konflik berikutnya, termasuk kemungkinan benturan besar Amerika dengan China di kawasan Pasifik serta konflik Rusia dengan Ukraina dan Eropa yang terus berkepanjangan.

Ancaman Krisis Global dan Revolusi Sosial

Dampak perang global, lanjut Prof Sutan, tidak hanya dirasakan di medan tempur, tetapi juga menghantam ekonomi dunia. Lonjakan harga minyak, energi, dan kebutuhan pokok berpotensi memicu gejolak sosial hingga revolusi di banyak negara berkembang.

“Ketika rakyat tidak lagi mampu membeli kebutuhan hidup, maka kemarahan sosial akan menjadi api revolusi. Banyak pemimpin negara gagal membaca penderitaan rakyatnya sendiri,” katanya.

Prof Sutan Nasomal menegaskan bahwa dunia saat ini sedang menuju perubahan besar dalam sistem politik, hukum, dan ekonomi internasional. Menurutnya, banyak aturan lama perlahan akan ditinggalkan dan diganti dengan tatanan global baru.

“Prahara dunia sedang bergerak sangat cepat. Dalam waktu dekat dunia akan menentukan arah baru menuju keseimbangan kekuatan, sistem pemerintahan, ekonomi, dan hukum internasional yang berbeda dari sebelumnya,” tutupnya.

Narasumber:

Sutan Nasomal – Pakar Hukum Internasional, Ekonom Nasional, Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia, dan Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *