Garut (Jabar), Radar007.com — Pepatah lama mengatakan, “Di atas langit masih ada langit,” yang bermakna bahwa setinggi apa pun posisi seseorang atau sehebat apa pun suatu hal, selalu ada yang lebih tinggi. Namun dalam dinamika kebijakan publik di Indonesia saat ini, pepatah tersebut seolah mendapat tafsir baru: “Di atas langit masih ada MBG.”
Pandangan bernuansa satire itu disampaikan Pimpinan Perusahaan PT Radar Media Group, Maruli Silitonga, CFLE., dalam wawancara eksklusif bersama pewawancara Muhammad Agus Zakariyya, S.E., saat momen buka puasa bersama di kediamannya di Bogor, Kamis (5/3/2026).
Menurut Maruli, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang pada dasarnya digagas untuk meningkatkan kesejahteraan gizi anak-anak Indonesia merupakan kebijakan yang memiliki tujuan mulia. Namun dalam praktiknya, ia melihat muncul fenomena sosial yang menarik: program tersebut seakan berada di posisi yang sulit disentuh kritik.
“Di banyak negara, program makan sekolah adalah hal yang biasa. Jepang punya, Amerika punya, bahkan negara yang ekonominya terbatas juga punya. Tidak ada yang dianggap luar biasa. Tetapi di Indonesia, MBG seolah naik kasta. Ia bukan sekadar program atau kebijakan, melainkan seperti entitas yang tidak boleh dipertanyakan,” ujar Maruli dengan nada satir.
Ia menyoroti kecenderungan di ruang publik ketika muncul persoalan yang berkaitan dengan program tersebut. Menurutnya, berbagai kritik atau pertanyaan sering kali langsung dianggap sebagai bentuk penolakan terhadap program pemerintah.
“Misalnya ketika muncul laporan anak keracunan makanan, kualitas makanan dipersoalkan, atau anggaran yang dinilai sangat besar. Kritik seperti itu sering kali dianggap tabu. Seolah-olah dalam ‘kasta baru republik ini’, MBG berada di tingkat paling tinggi sehingga tidak boleh disentuh,” katanya.
Maruli menilai kondisi tersebut justru menimbulkan ironi. Dalam pandangannya, yang seharusnya menjadi fokus utama dari program tersebut adalah para siswa sebagai penerima manfaat.
“Justru yang berada di lapisan paling bawah dari ‘kasta’ itu adalah anak-anak. Mereka yang menerima makanan dengan kualitas yang kadang dipersoalkan di lapangan nasi yang dingin, menu yang sederhana, atau penyajian yang dinilai kurang layak. Tetapi semua harus diterima dengan rasa syukur karena disebut sebagai program besar negara,” paparnya.
Ia juga menyoroti stigma yang sering muncul terhadap pihak-pihak yang menyampaikan kritik. Menurutnya, kritik yang bertujuan memperbaiki justru sering ditafsirkan sebagai sikap yang tidak mendukung program pemerintah.
“Siapa pun yang mengkritik kadang langsung dicap tidak peduli gizi anak, tidak nasionalis, atau tidak menghargai kebijakan negara. Padahal kritik yang muncul sebenarnya sederhana: jika program ini benar-benar untuk anak-anak, mengapa kualitasnya di beberapa tempat masih dipertanyakan?” ujarnya.
Maruli menilai satire yang ia sampaikan lahir dari kontradiksi antara idealisme kebijakan dan realitas yang kadang muncul di lapangan.
“Dalam negara yang sehat, program pemerintah seharusnya berada di bawah pengawasan publik. Kritik adalah bagian dari mekanisme demokrasi. Tetapi dalam realitas yang kita lihat, kadang terasa seolah-olah rakyatlah yang harus tunduk pada program, sementara programnya tidak boleh disentuh,” ungkapnya.
Dari fenomena itulah, kata Maruli, muncul ungkapan satire yang ia lontarkan: “Di atas langit masih ada MBG.” Sebuah ungkapan simbolik untuk menggambarkan bagaimana suatu program bisa ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi dalam ruang diskursus publik.
“Bahkan mungkin, jika langit itu sendiri bisa berbicara, ia akan bertanya dengan heran: kapan aku turun kasta?” tutup Maruli Silitonga, CFLE., dengan nada sindiran tajam.(Zarase/Red)














