“Emas Kalteng Dikeruk, Masa Depan Diracuni — Profesor Sutan Nasomal: Negara Jangan Diam, Hukum Jangan Mandul!”

banner 120x600

Palangka Raya, Radar007.com — Di balik gemerlap emas yang dikeruk dari tanah Kalimantan Tengah, ada luka yang terus menganga. Sungai-sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan kini terancam tercemar. Hutan yang seharusnya menjadi benteng alam perlahan digerus. Dan yang paling mengkhawatirkan, masa depan generasi seakan dipertaruhkan.

Fenomena pertambangan emas tanpa izin (PETI) bukan lagi sekadar pelanggaran hukum. Ia telah menjelma menjadi ancaman nyata yang menyentuh sisi paling mendasar: keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Sorotan keras datang dari Profesor Dr. Sutan Nasomal, Pakar Hukum Pidana Internasional sekaligus Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia. Dengan nada penuh keprihatinan, ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh lagi dianggap biasa.

“Ini bukan hanya soal emas. Ini soal kehidupan. Jika air diracuni dan tanah dihancurkan, maka yang kita wariskan bukan kesejahteraan, melainkan penderitaan,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).

Ucapan itu bukan sekadar kritik, tetapi cermin dari kegelisahan banyak pihak yang melihat kerusakan terjadi di depan mata.

Di berbagai platform media sosial, beredar video dan foto yang memperlihatkan aktivitas tambang ilegal berlangsung terang-terangan. Alat berat bekerja tanpa rasa takut, seolah tidak tersentuh hukum. Pemandangan ini bukan hanya mengusik logika, tetapi juga melukai rasa keadilan publik

“Rakyat bisa melihat dengan jelas. Lalu di mana aparat? Jangan sampai muncul kesan bahwa hukum kita hanya tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas,” tegas Profesor Dr. Sutan Nasomal.

Nada suaranya meninggi. Bukan tanpa alasan. Ia melihat ada potensi pembiaran yang berbahaya jika tidak segera dihentikan.

Menurutnya, negara tidak boleh kalah oleh praktik-praktik ilegal yang diduga melibatkan kepentingan besar di belakangnya. Penegakan hukum, kata dia, harus berdiri tegak tanpa pandang bulu.

“Jangan hanya penambang kecil yang ditindak. Jika ada aktor besar atau ‘cukong’ di belakangnya, mereka juga harus dibongkar. Kalau tidak, hukum hanya akan menjadi formalitas,” ujarnya tegas.

Lebih dari sekadar kerugian ekonomi, dampak yang ditimbulkan jauh lebih dalam. Penggunaan merkuri yang tidak terkendali mengancam kesehatan masyarakat. Air yang tercemar bisa menjadi racun yang perlahan menggerogoti tubuh manusia, bahkan hingga generasi berikutnya.

Kerusakan lingkungan pun tidak bisa dipulihkan dalam waktu singkat. Hutan yang hilang, sungai yang rusak, dan ekosistem yang terganggu adalah harga mahal yang harus dibayar.

Namun ironisnya, semua itu terjadi di tengah fakta bahwa negara juga dirugikan secara finansial. Potensi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang hilang diperkirakan mencapai angka besar. Tapi sekali lagi, menurut Profesor Dr. Sutan Nasomal, kerugian ekologis jauh lebih mengerikan daripada angka rupiah.

Di akhir pernyataannya, ia mengajak masyarakat untuk tidak tinggal diam. Ia mendorong publik untuk terus mengawasi, bersuara, dan memanfaatkan media sebagai alat kontrol sosial.

Karena pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya milik Kalimantan Tengah. Ini adalah persoalan bangsa.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang hilang bukan hanya emas, tetapi masa depan.

Negara tidak boleh kalah. Aparat tidak boleh diam. Hukum tidak boleh mandul.

Karena ketika hukum kehilangan wibawanya, yang runtuh bukan hanya keadilan—tetapi kepercayaan rakyat itu sendiri. (**)

 

Narasumber: Profesor Dr. Sutan Nasomal — Pakar Hukum Pidana Internasional, Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia, Pengasuh Ponpes Ass Saqwa Plus

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *