Rupiah Melemah, Daya Beli Runtuh: Alarm Bahaya bagi Pemerintahan Prabowo

Foto: Ilustrasi

banner 120x600

Rupiah Terkapar Dihantam Dolar, Prof Sutan Nasomal: Rakyat Kecil Jadi Korban Utama

JAKARTA, Radar007.com – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah di hadapan dolar Amerika Serikat dinilai telah menimbulkan efek berantai yang menggerus sendi-sendi perekonomian nasional. Kenaikan harga barang kebutuhan, melemahnya daya beli masyarakat, hingga ancaman bertambahnya angka kemiskinan disebut sebagai dampak nyata yang kini dirasakan rakyat di berbagai lapisan.

Menurut Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Melemahnya rupiah telah menjadi beban berat yang memukul dunia usaha, mempersempit ruang gerak ekonomi rakyat, dan menciptakan ketidakpastian yang berpotensi mengancam stabilitas sosial.

“Ketika rupiah terus tertekan dan harga-harga melambung, yang paling menderita adalah masyarakat kecil. Daya beli melemah, usaha mikro terpuruk, dan ancaman kebangkrutan semakin meluas. Jika situasi ini terus dibiarkan, maka kesenjangan sosial akan semakin tajam,” ujar Prof. Sutan Nasomal saat dihubungi melalui sambungan telepon dari Jakarta, Minggu (7/6/2026).

Ia menilai pemerintah perlu segera mengerahkan seluruh instrumen ekonomi nasional, termasuk para pakar ekonomi, staf ahli, dan kementerian terkait untuk merumuskan langkah konkret dalam memperkuat nilai rupiah serta menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Menurutnya, tekanan dolar terhadap rupiah bukan sekadar persoalan kurs, melainkan telah memengaruhi psikologi pasar dan kepercayaan masyarakat terhadap arah kebijakan ekonomi negara.

“Jangan sampai pemerintah hanya menerima laporan yang menyenangkan telinga, sementara fakta di lapangan menunjukkan rakyat semakin sulit bertahan. Warung-warung kecil mulai sepi, usaha rakyat berada di ambang kebangkrutan, dan biaya hidup terus meningkat,” tegasnya.

Prof. Sutan juga menyayangkan minimnya respons strategis yang terlihat di tengah situasi ekonomi global yang penuh gejolak. Ia mencontohkan sejumlah negara besar yang terus melakukan pembenahan dan penguatan ekonomi domestik guna menghadapi ancaman perlambatan ekonomi dunia.

“Saat negara-negara besar berlomba memperkuat fondasi ekonominya, Indonesia tidak boleh terlena. Bangsa ini telah dibangun dengan perjuangan puluhan tahun. Jangan sampai ketergantungan yang berlebihan terhadap dolar membuat kedaulatan ekonomi kita semakin rapuh,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa persoalan ekonomi yang tidak ditangani secara serius dapat berkembang menjadi persoalan sosial dan keamanan yang lebih besar. Bertambahnya jumlah masyarakat miskin, meningkatnya pengangguran, serta melemahnya sektor usaha rakyat berpotensi memicu gejolak di berbagai daerah.

Karena itu, Prof. Sutan Nasomal meminta Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk mengedepankan prinsip keseimbangan, keadilan ekonomi, dan kemanusiaan dalam setiap kebijakan yang diambil.

“Rakyat kecil saat ini membutuhkan keberpihakan nyata. Mereka tidak membutuhkan janji, tetapi solusi. Tetesan keringat pedagang kecil, buruh, petani, dan masyarakat bawah adalah alarm yang harus didengar oleh negara. Jangan sampai kemiskinan yang semakin meluas menjadi bukti kegagalan dalam membaca arah kebijakan ekonomi,” pungkasnya.

 

Narasumber: Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, Pengasuh Ponpes Ass Saqwa Plus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *