Gelar Peringatan Hari Tari Sedunia 2026, DKP Purworejo Ajak Generasi Muda Lestarikan Ndolalak_

banner 120x600

*Purworejo, 4 Mei 2026* – Memperingati Hari Tari Sedunia, Dewan Kesenian Purworejo (DKP) bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo menggelar pementasan tari tradisional di Halaman Pendopo Bupati Purworejo, Senin (4/5/2026).

Ketua Komite Tari DKP, Agus Pramono, selaku penyelenggara menjelaskan bahwa pentas kali ini menampilkan Tari Ndolalak sebagai bentuk komitmen pelestarian seni budaya lokal.

“DKP Komite Tari punya program tahunan memperingati Hari Tari. Seharusnya dilaksanakan 29 April, tetapi karena kesibukan anggota, baru bisa kita gelar hari ini,” ujar Agus kepada awak media.

Acara ini dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo Yudhie Agung Prihatno, http://S.STP., M.M., Kepala Dinas Porapar Bagun Erlangga Ibrahim, http://S.STP., M.M., Ketua Komisi IV DPRD Purworejo Sri Susilowati, S.E., serta Ketua PGRI Purworejo Irianto Gunawan, http://S.Pd.

Agus menambahkan, Pemkab Purworejo turut memfasilitasi kegiatan meski dengan anggaran terbatas. “Walau dana minim, kita bisa berkolaborasi. Pemkab sering membantu konsumsi saat latihan dan kebutuhan lainnya,” katanya.

Tahun ini, total anggaran untuk Dewan Kesenian sekitar Rp100 juta lebih sebelum pajak, yang dibagi untuk enam komite guna menyelenggarakan event. “Harapannya, Ndolalak dan seluruh kebudayaan Purworejo tetap lestari dan diuri-uri hingga turun-temurun,” tegas Agus.

Peserta pentas berasal dari komunitas Ndolalak se-Kabupaten Purworejo serta pelajar dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa dan alumni yang memiliki minat di bidang seni tari.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Yudhie Agung Prihatno menyampaikan bahwa Kurikulum Merdeka memberi kebebasan tiap sekolah untuk mengembangkan seni tari melalui ekstrakurikuler.

“Secara umum Ndolalak sudah berkembang cukup baik. Kemarin kami lebih fokus mendorong Cing Po Ling karena termasuk kekayaan seni asli Purworejo yang menunjukkan tingginya budaya kita sejak dulu,” jelas Yudhie.

Ia mengajak semua pihak melestarikan dan mengembangkan seni, baik Ndolalak, Cing Po Ling, maupun kesenian lainnya. “Jangan hanya jadi penonton. Mari bangga dengan seni yang kita miliki,” pesannya.

Yudhie juga menegaskan tidak ada anggaran khusus untuk Ndolalak. Namun, Dindikbud rutin mengadakan pelatihan bagi guru dan pelatih tari agar dapat melatih murid di sekolah. “Event ini jadi ruang ekspresi bagi pelatih seni. Harapannya, kita bisa terus berdiskusi, bertukar pendapat, memberi masukan agar seni tari di Purworejo tetap lestari dan diminati masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *