Asahan, Radar007.com
Dugaan maraknya peredaran narkoba di Desa Alang Bombon, Kecamatan Aek Kuasan, Kabupaten Asahan, kini semakin memantik kemarahan publik. Bukan hanya karena aktivitas haram itu disebut masih terus berjalan, tetapi juga lantaran muncul dugaan adanya “pergantian penguasa jalur edar” yang dibicarakan warga secara terang-terangan layaknya rahasia umum.
Ironisnya, isu dugaan pergantian bandar itu justru lebih cepat menyebar dari kabar pembangunan desa maupun program bantuan masyarakat. Kondisi ini membuat warga geram sekaligus prihatin terhadap masa depan kampung mereka yang dinilai semakin tercoreng oleh bayang-bayang narkotika.
Berdasarkan informasi yang diterima wartawan dari warga setempat melalui pesan WhatsApp, Sabtu (22/5/2026), rumah milik pria berinisial “JY” di Gang Melati, Desa Alang Bombon, yang diduga sebagai salah satu pengendali peredaran narkoba, disebut sempat digeledah aparat kepolisian sekitar tiga hari lalu.
Namun, penggerebekan tersebut dikabarkan tidak membuahkan hasil berupa barang bukti narkotika.
“Sangat disayangkan, barang bukti tidak ditemukan. Kemungkinan bandar sudah lebih dulu mendapat bocoran,” ungkap sumber kepada wartawan.
Kabar itu pun langsung menyulut spekulasi liar di tengah masyarakat. Warga mulai mempertanyakan bagaimana mungkin lokasi yang disebut-sebut ramai diperbincangkan justru kosong saat dilakukan penggerebekan.
Di tengah derasnya sorotan publik, wartawan mencoba meminta konfirmasi kepada Kapolsek Pulau Raja terkait langkah penindakan yang dilakukan aparat di wilayah hukumnya. Namun jawaban yang diberikan justru memunculkan tanda tanya baru.
“Dengan Kanit Reskrim saja yang lebih tepat dan lebih tahu bang, rumah siapa saja yang mereka geledah dan siapa saja yang menggeledah di wilkum kami,” ujar Kapolsek Pulau Raja kepada wartawan.
Tak berhenti di situ, Kapolsek kembali menegaskan bahwa pihak Reskrim lebih memahami detail operasi yang dilakukan.
“Mereka lebih tahu,” balasnya singkat.
Pernyataan tersebut langsung menjadi perbincangan warga. Sebab, masyarakat menilai aparat seharusnya memiliki sikap tegas dan terbuka terhadap keresahan publik yang sudah lama menggunung terkait dugaan aktivitas narkoba di kawasan Aek Kuasan.
Di warung kopi hingga pos ronda, warga kini ramai menyindir situasi kampung mereka layaknya “bursa transfer pemain”, menyusul munculnya nama-nama baru yang disebut mengambil alih jalur edar narkoba dari pemain lama.
Nama “JY” kini ramai diperbincangkan sebagai sosok yang diduga menguasai jalur edar di Alang Bombon. Sementara “TT”, yang sebelumnya santer disebut mengendalikan wilayah Aek Loba Pekan, dikabarkan mulai bergeser ke kawasan perbatasan Aek Songsongan–Bandar Pulau.
“Kalau dulu orang cari TT, sekarang katanya cari JY saja. Cepat kali gantinya,” sindir seorang warga sambil tertawa pahit.
Candaan bernada satire itu kini berubah menjadi kritik sosial yang serius. Masyarakat menilai informasi soal dugaan bandar narkoba justru lebih cepat menyebar dibanding kabar bantuan sosial atau program pembangunan desa.
“Heran kali kami. Informasi dugaan bandar pindah wilayah lebih cepat tersebar daripada kabar bantuan sosial,” ujar warga lainnya.
Kondisi tersebut membuat masyarakat mulai mempertanyakan sejauh mana keseriusan aparat dalam memutus jaringan narkoba yang disebut-sebut sudah lama menjadi rahasia umum di kawasan itu.
“Kalau warga saja sudah hafal nama-namanya, masa aparat tidak tahu?” celetuk seorang tokoh pemuda setempat.
Di sisi lain, pernyataan Kapolsek yang mengarahkan konfirmasi kepada Kanit Reskrim justru semakin memperkuat asumsi publik bahwa memang ada aktivitas penggerebekan yang dilakukan aparat di wilayah tersebut. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi terkait hasil operasi, siapa yang diamankan, maupun perkembangan penanganan kasus yang kini menjadi sorotan masyarakat.
Warga berharap aparat penegak hukum tidak hanya bergerak saat isu viral atau menjadi perhatian media, tetapi benar-benar hadir untuk menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkoba yang semakin mengkhawatirkan.
“Jangan sampai kampung kami dikenal karena perang wilayah narkoba. Kami ingin desa ini aman, bukan jadi cerita gelap yang terus diwariskan,” ujar seorang warga dengan nada kecewa.
(Mjs)








