Radar007.com, Semarang
Siapa sangka kawasan Pasar Dargo, Kebon Agung hingga Sarirejo, Semarang Timur, yang dulu dikenal gelap, terbengkalai, dan identik dengan rasa takut, kini berubah drastis menjadi pusat perputaran ekonomi rakyat sekaligus penyumbang miliaran rupiah bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Semarang, Minggu (24/5/2026) pagi.
Menjelang Hari Raya Idul Adha, denyut kebersamaan di kawasan ini kembali terasa kuat. Para pengusaha karaoke menunjukkan kepedulian sosial dengan menyerahkan sapi kurban kepada masyarakat sekitar. Langkah tersebut menjadi bukti bahwa keberadaan dunia usaha di kawasan Pasar Dargo bukan hanya menciptakan aktivitas ekonomi, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial warga.
Transformasi Pasar Dargo disebut sebagai salah satu contoh nyata bagaimana kawasan mati yang dulunya dipenuhi bangunan kosong dan ruko terbengkalai berhasil dihidupkan kembali melalui pengelolaan yang profesional dan teratur. Wilayah yang sebelumnya dianggap rawan kriminalitas dan menakutkan kini justru berubah menjadi kawasan produktif yang menggerakkan ekonomi masyarakat bawah.
Dari kawasan yang nyaris tak bernilai, kini lahir sumber pemasukan daerah bernilai miliaran rupiah setiap tahun. Aktivitas usaha yang berjalan tertib mampu menghidupkan ekonomi lokal sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Mulai dari petugas parkir, pekerja harian, hingga pelaku UMKM dan warung kecil ikut merasakan dampak ekonomi yang nyata.
Tak hanya itu, pengelolaan retribusi di kawasan tersebut disebut berjalan transparan dan disiplin. Setoran kepada kas daerah dilakukan sesuai aturan, membuktikan bahwa aktivitas usaha dapat berjalan berdampingan dengan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah.
Perubahan paling mencolok terlihat dari sisi keamanan. Kawasan yang dulunya sering diasosiasikan dengan tindakan kriminal, perampasan, hingga tempat persembunyian kelompok meresahkan, kini berubah menjadi lingkungan yang tertib, aman, dan hidup sepanjang hari. Warga tak lagi dihantui rasa takut saat beraktivitas.
Kepedulian para pengusaha juga terlihat dalam setiap momentum sosial masyarakat. Saat peringatan Hari Kemerdekaan RI, Pasar Dargo selalu dipenuhi kemeriahan lomba rakyat dan kegiatan warga yang mendapat dukungan penuh dari para pelaku usaha setempat. Hubungan antara masyarakat dan pengusaha pun terjalin erat dalam semangat gotong royong dan saling menjaga.
Kini, Pasar Dargo bukan lagi simbol kawasan suram, melainkan simbol kebangkitan ekonomi rakyat dan harmoni sosial Kota Semarang. Dari tempat yang dulu dianggap “mati”, kawasan ini justru bangkit menjadi bukti bahwa ketika ekonomi dikelola dengan kepedulian sosial dan ketertiban, maka keamanan, kesejahteraan, dan persatuan masyarakat dapat tumbuh bersamaan.
Laporan: Roger
Editor: R007










