Jakarta | Radar007.com
Ruang publik kembali memanas. Pernyataan pengamat politik Saiful Mujani yang ditafsirkan sebagai ajakan menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto memicu gelombang reaksi luas.
Isu ini berkembang cepat, menyulut perdebatan tajam di tengah situasi politik nasional yang masih sensitif pasca pemilu. Sejumlah pihak menilai narasi tersebut berpotensi melampaui batas kritik dan masuk ke wilayah yang berbahaya bagi stabilitas negara.
Kritik atau Delegitimasi? Garis Tipis yang Dipertaruhkan
Dalam berbagai pemberitaan, Saiful Mujani disebut menyerukan konsolidasi untuk menurunkan Presiden. Tafsir ini kemudian memantik kekhawatiran, terutama jika dimaknai sebagai upaya di luar mekanisme konstitusional.
Di titik inilah, garis antara kritik demokratis dan delegitimasi kekuasaan menjadi sorotan tajam.
FABEM Angkat Suara: Demokrasi Butuh Etika, Bukan Provokasi
Wakil Ketua Umum DPP FABEM (Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa), Tody Ardiansyah Prabu, memberikan respons yang lugas namun terukur.
Menurutnya, demokrasi memang memberi ruang luas untuk kritik. Namun, setiap pernyataan—terutama dari tokoh intelektual—harus tetap berada dalam koridor konstitusi.
“Kritik itu sah. Tapi jangan sampai narasi yang dibangun justru menimbulkan tafsir yang memicu instabilitas,” tegasnya.
Ia mengingatkan, kebebasan berpendapat bukan berarti bebas tanpa batas. Ada tanggung jawab moral dan sosial yang harus dijaga.
Peringatan Keras: Jangan Mainkan Opini yang Bisa Mengguncang Negara
FABEM menilai, opini publik yang tidak terkelola dengan baik dapat berubah menjadi “api liar” di tengah masyarakat yang majemuk.
Narasi yang tidak proporsional, apalagi yang menyentuh legitimasi pemerintahan, berisiko memperkeruh situasi.
“Ini bukan sekadar beda pendapat. Ini soal bagaimana menjaga demokrasi tetap sehat, bukan justru merusaknya dari dalam,” ujar Tody.
Istana Pilih Diam, Fokus Kerja
Di tengah riuh polemik, pemerintah melalui Istana disebut memilih tidak terpancing. Presiden Prabowo Subianto tetap fokus pada agenda strategis dan pelayanan publik.
Sikap ini diapresiasi sebagai langkah menjaga stabilitas di tengah dinamika politik yang berpotensi memanas.
Momentum Ujian Demokrasi Indonesia
FABEM melihat polemik ini bukan sekadar kontroversi biasa, melainkan ujian kedewasaan demokrasi Indonesia.
Perbedaan pandangan adalah hal wajar. Namun, cara menyampaikannya menentukan apakah demokrasi akan tumbuh sehat—atau justru tergerus oleh konflik narasi.
Pesan Tegas: Gunakan Akal Sehat, Bukan Emosi Politik
FABEM mengajak seluruh elemen bangsa—akademisi, aktivis, hingga masyarakat umum—untuk menjaga ruang publik tetap rasional.
Di tengah tekanan ekonomi, tantangan sosial, dan dinamika geopolitik global, stabilitas nasional menjadi kunci utama.
“Demokrasi itu bukan hanya soal kebebasan bicara, tapi juga tanggung jawab menjaga bangsa tetap utuh,” tutup Tody.










