Oleh:Jacob Ereste | Radar007.com
Jalan spiritual sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan sejatinya tidak harus dijalani dengan ketegangan, seolah sedang melewati etape kehidupan yang berat dan melelahkan. Sebaliknya, ia dapat dilakukan dengan riang gembira—ringan, santai, dan tanpa beban yang memberatkan batin.
Ibarat jalan pagi mengelilingi kampung atau menyusuri lintasan olahraga, laku spiritual adalah olah batin yang menyehatkan. Ia menjaga jiwa tetap kokoh dan tegar saat menghadapi berbagai godaan yang berpotensi menjerumuskan manusia ke dalam lembah kehinaan—perilaku yang tidak hanya tercela secara sosial, tetapi juga tidak membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Spiritualitas yang sehat adalah proses menimbang, mencerna, lalu memilih. Menikmati yang baik, sekaligus menghindari yang buruk. Bukan sekadar menjauhi hal yang tak bermanfaat, tetapi juga menghindari segala sesuatu yang berpotensi merugikan—baik bagi diri sendiri maupun sesama.
Karena itu, bagian penting dari laku spiritual adalah kemampuan untuk mencegah keburukan. Bukan hanya menahan diri dari perbuatan buruk, tetapi juga berani mencegah keburukan yang dilakukan orang lain—baik terhadap diri kita maupun terhadap sesama.
Dalam kerangka inilah konsep amar ma’ruf nahi munkar menemukan relevansinya yang universal. Manusia sebagai pengemban amanah—khalifatullah di muka bumi—dituntut tidak hanya berbuat baik, tetapi juga menjaga tatanan kebaikan itu tetap hidup dalam kehidupan bersama.
Jalan spiritual pun dapat dimaknai sebagaimana tergambar dalam ungkapan puitik karya Taufiq Ismail, tentang “sajadah panjang yang merentang sepanjang jalan menuju kuburan,” yang juga dipopulerkan oleh Bimbo.
Sebuah metafora yang sederhana namun dalam: bahwa ibadah bukanlah aktivitas sesaat, melainkan perjalanan hidup itu sendiri—sejak langkah pertama hingga akhir hayat.
Maka, laku spiritual yang bijak tak perlu rumit. Ia justru menemukan maknanya dalam kesederhanaan—seperti jalan pagi yang dilakukan dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan kegembiraan.
Sebagaimana para sufi yang menjalani hidup dengan ringan, tanpa silau oleh gemerlap dunia, namun tetap teguh dalam cahaya batin.
Banten, 15 April 2026














