Protes Tak Kebagian Daging Kurban, Mbah Semar: Jangan Campur Profesi dengan Kepentingan Pribadi

Foto: Istimewa

banner 120x600

BANYUWANGI – Mencuatnya keluhan sejumlah oknum yang mengaku wartawan lantaran tidak menerima pembagian daging kurban dari Polresta Banyuwangi memantik sorotan publik. Menanggapi hal tersebut, praktisi media yang akrab disapa Mbah Semar menegaskan bahwa daging kurban bukanlah hak yang wajib diterima oleh profesi, kelompok, maupun individu tertentu.

Menurutnya, ibadah kurban merupakan bentuk pengabdian kepada Tuhan sekaligus sarana berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan, seperti kaum dhuafa, anak yatim, lansia, dan warga kurang mampu. Karena itu, penentuan penerima sepenuhnya menjadi kewenangan panitia kurban berdasarkan pertimbangan sosial dan kemanfaatan.

“Kurban bukan proyek bagi-bagi jatah. Daging kurban adalah amanah ibadah yang harus disalurkan kepada mereka yang dianggap layak menerima. Tidak mendapat bagian bukan alasan untuk marah, apalagi menjadikannya sebagai alat tekanan terhadap pihak penyelenggara,” tegas Mbah Semar, Sabtu (30/5/2026).

Ia menilai, jika benar ada pihak yang kecewa hanya karena tidak memperoleh daging kurban, maka hal tersebut justru mencederai marwah profesi wartawan yang selama ini dikenal sebagai profesi mulia, independen, dan berintegritas.

“Wartawan bekerja untuk menyampaikan kebenaran dan informasi kepada publik, bukan berburu bantuan sosial, bingkisan, atau jatah kurban. Ketika profesi dijadikan alat untuk mengejar kepentingan pribadi, maka independensi dan kehormatan profesi ikut dipertaruhkan,” ujarnya.

Mbah Semar mengingatkan bahwa tugas jurnalistik tidak boleh dicampuradukkan dengan kepentingan materi maupun fasilitas yang diberikan oleh instansi, lembaga, atau pihak mana pun. Wartawan yang profesional, kata dia, tetap menjalankan fungsi kontrol sosial tanpa bergantung pada pemberian atau keuntungan pribadi.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh insan pers untuk menjadikan momentum Iduladha sebagai refleksi tentang nilai keikhlasan, pengorbanan, dan pengendalian diri, bukan sebagai ajang menuntut perlakuan khusus.

“Esensi kurban adalah memberi, bukan meminta. Semangat Iduladha mengajarkan keikhlasan, bukan kekecewaan karena tidak kebagian. Jika setiap pihak mampu memahami nilai tersebut, maka polemik semacam ini tidak perlu terjadi,” katanya.

Mbah Semar juga berharap hubungan baik antara media dan institusi tetap terjaga melalui komunikasi yang sehat, saling menghormati, dan menjunjung tinggi etika profesi.

“Jangan sampai persoalan sepotong daging merusak kehormatan profesi yang dibangun dengan perjuangan panjang. Harga diri wartawan jauh lebih tinggi daripada sekadar nilai materi yang diterima atau tidak diterima,” pungkasnya.

Opini ini merupakan pandangan umum mengenai etika sosial, profesionalisme pers, dan makna ibadah kurban, serta tidak ditujukan kepada individu maupun kelompok tertentu.

 

(Mbah Semar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *