KPK Dorong Mahasiswa Lawan Perilaku Koruptif Lewat Komik, Kreativitas Jadi Senjata Tanamkan Integritas

“Berani Karena Benar”

banner 120x600

JAKARTA, Radar007.com — Pesan antikorupsi tak melulu harus disampaikan lewat bahasa hukum yang kaku atau deretan pasal. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini mendorong generasi muda menyuarakan integritas melalui cara yang lebih dekat dengan dunia mereka: kreativitas dan komik.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui Kompetisi Komik Sketch Your Integrity (SYI) 2026, yang melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi untuk menuangkan pengalaman, keresahan, sekaligus gagasan tentang integritas ke dalam karya visual.

Kompetisi ini digelar KPK melalui Direktorat Jejaring Pendidikan (Jardik) bekerja sama dengan tiga perguruan tinggi, yakni Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dan ISI Bali.

Rangkaian kegiatan telah berjalan sejak Mei 2026, mulai dari sosialisasi, pembekalan peserta, pengumpulan karya hingga proses penjurian yang dilakukan secara bertahap di masing-masing kampus.

Mengusung tema “Menjaga Integritas dengan Kreativitas”, SYI 2026 mengajak mahasiswa menyampaikan pesan tentang kejujuran, transparansi, tanggung jawab, serta perilaku antikorupsi melalui medium komik.

Yang menarik, pesan yang dibawa tidak sebatas soal tindak pidana korupsi. KPK juga mendorong peserta mengangkat perilaku koruptif yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari—persoalan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi berkaitan langsung dengan pembentukan karakter dan budaya integritas.

Komik Bukan Sekadar Gambar, Tapi Pesan Integritas

Rangkaian Kompetisi SYI 2026 di Institut Teknologi Kalimantan ditutup melalui Penganugerahan Pemenang di Auditorium Gedung A Kampus ITK, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (22/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Rektor II ITK Khakim Ghozali, Direktur Jejaring Pendidikan KPK Dian Novianthi, serta sekitar 150 mahasiswa.

Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo menegaskan, pendidikan antikorupsi dapat dikemas melalui berbagai medium yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

Menurutnya, komik memiliki kekuatan untuk menggambarkan persoalan integritas secara sederhana, kontekstual, dan mudah diterima.

“Lomba Komik SYI sebagai implementasi Pendidikan Antikorupsi melalui seni berupa komik. Komik ini tidak harus berisi pasal-pasal terkait tindak pidana korupsi, tetapi hal-hal yang berhubungan dengan perilaku koruptif dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ibnu.

Pesan tersebut menjadi penting karena integritas tidak hanya diuji ketika seseorang berhadapan dengan persoalan besar. Justru, nilai kejujuran dan tanggung jawab dibentuk dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.

13 Peserta, Beragam Cerita tentang Integritas

Di ITK, kompetisi diikuti 13 peserta, baik individu maupun kelompok.

Para mahasiswa mengolah berbagai gagasan mengenai integritas dan antikorupsi menjadi cerita bergambar dengan pendekatan yang beragam.

Melalui karya tersebut, mahasiswa tidak sekadar menjadi objek pendidikan antikorupsi. Mereka diberi ruang untuk menjadi subjek yang ikut menyuarakan nilai integritas dari perspektif generasi mereka sendiri.

Hasil penjurian kemudian menetapkan empat pemenang Kompetisi Komik SYI ITK 2026.

Juara pertama diraih Tim No Jiplak-Jiplak Club, yang beranggotakan Vito Zilanayo dan Nailah Nazhifah.

Juara kedua diraih Salma Hayek Safira, sementara juara ketiga diraih Margareta Estin.

Adapun Juara Harapan diraih Tim Kelompok 2RN, yang beranggotakan Reva Islami Budiman, Muhammad Rizky, dan Nabil Nugroho Justisiko.

Komik Jadi Ruang Menyuarakan Keresahan Sosial

Tak berhenti pada pemberian penghargaan, kegiatan juga dirangkai dengan pameran karya para finalis serta talkshow “Bincang Asik Integritas Mahasiswa”.

Talkshow tersebut menghadirkan Direktur Jejaring Pendidikan KPK Dian Novianthi bersama komikus profesional Adelia Maghfira untuk membahas kreativitas serta peran mahasiswa dalam menyuarakan nilai integritas.

Adelia menilai komik memiliki kekuatan sebagai medium seni yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mampu membawa pesan sosial.

“Komik bisa menjadi salah satu media seni untuk menyuarakan nilai kejujuran dan juga keresahan di masyarakat. Menjadi seorang komikus juga perlu dedikasi dan kedisiplinan untuk menghasilkan karya yang bermakna,” ujar Adelia.

Sementara itu, Dian Novianthi menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam memperluas ruang partisipasi generasi muda terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk isu integritas dan antikorupsi.

“Kami berharap generasi muda terus berani dan peduli dengan isu-isu sosial di masyarakat. KPK siap mendukung melalui berbagai program yang mendorong keterlibatan aktif mahasiswa ke depannya,” kata Dian.

Karya Mahasiswa Tak Berhenti di Lomba

Yang menjadi perhatian, karya-karya terbaik dalam Kompetisi SYI 2026 tidak berhenti sebagai karya lomba atau pajangan pameran.

KPK berencana mengembangkan dan mengompilasi karya tersebut menjadi buku komik yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu materi pendukung pembelajaran Pendidikan Antikorupsi (PAK).

Langkah tersebut membuka ruang baru dalam penyampaian pendidikan antikorupsi. Pesan integritas tidak hanya hadir melalui materi akademik, tetapi juga melalui cerita visual yang lahir dari pengalaman dan sudut pandang mahasiswa.

Dengan pendekatan tersebut, nilai integritas diharapkan lebih mudah dipahami sekaligus dikaitkan dengan kehidupan nyata.

Dari Kampus, Menyebarkan Budaya Integritas

Kompetisi Komik SYI 2026 sekaligus menjadi ruang kolaborasi antara KPK dan perguruan tinggi dalam memperkuat ekosistem pendidikan antikorupsi.

Kegiatan ini diselenggarakan dengan dukungan Australia-Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3).

Melalui kolaborasi tersebut, perguruan tinggi didorong bukan hanya menjadi tempat mahasiswa menerima pengetahuan tentang antikorupsi, tetapi juga menjadi ruang untuk berkreasi, bersuara, mengkritisi persoalan sosial, dan membangun budaya integritas.

Sebab, perang melawan korupsi bukan hanya perkara penindakan ketika pelanggaran sudah terjadi.

Ia juga dimulai dari pendidikan, keberanian berkata jujur, disiplin menjalankan tanggung jawab, serta keberanian menolak perilaku koruptif sejak hal-hal kecil.

Dan kali ini, pesan tersebut disampaikan bukan melalui ceramah panjang, melainkan lewat goresan pena mahasiswa yang mengubah kreativitas menjadi suara integritas.

 

(Bayu/Ugl/One)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *